Sore itu, Bagas kembali hadir di restoran Heri dengan kemeja sutra mahal dan senyum percaya diri yang mengembang. Ia langsung melangkah menuju meja bar tempat Heri sedang mengawasi pembukuan harian."Mas Heri! Lihat ini, saya bawakan kue kismis dari toko bakery langganan pejabat di pusat kota buat staf dapur," ujar Bagas dengan suara lantang, meletakkan dua kotak besar berhias pita emas di atas meja bar.Heri menoleh, menyunggingkan senyum ramah yang terlihat amat lugu dan antusias. "Wah, Mas Bagas ini repot-repot amat. Kasihan staf saya nanti jadi tuman dikasih kado mewah terus sama investor keren seperti Mas Bagas."Bagas terkekeh renyah, menepuk bahu Heri dengan keakraban yang dibuat-buat. "Ah, kecil itu, Mas Heri! Buat calon mitra bisnis besar, hal begini mah bukan apa-apa. Lagipula, saya itu makin kagum sama Mas Heri.""Kagum sama saya? Kagum dalam hal apa, Mas Bagas?" tanya Heri berpura-pura heran, sambil merapikan catatan di tangannya."Mas Heri ini pebisnis genius!" puji Bagas
Read more