Se connecterMelihat Heri tampak sangat mempercayainya dan menyambut setiap sarannya dengan antusiasme yang polos, Bagas mulai melangkah lebih jauh.Pria klimis itu melancarkan taktik manipulasi yang lebih berani: mencoba mengadu domba Heri dengan Sintya.Malam itu, Bagas berkunjung langsung ke apartemen pribadi Heri dengan dalih menyajikan proposal awal ekspansi restoran.Mereka bertiga berada di ruang tamu yang megah dan hangat. Sintya sedang menyajikan cangkir teh dan kudapan hangat di meja kaca, sebelum akhirnya melangkah mundur menuju area dapur yang terbuka tak jauh dari sana.Bagas membuka dokumen tebal di meja, lalu memajukan tubuhnya dan sengaja memelankan nada suaranya dengan wajah sok prihatin."Mas Heri, jujur ya... sebagai calon mitra bisnis yang peduli sama masa depan Mas Heri, ada satu hal yang dari kemarin bikin saya kepikiran," bisik Bagas penuh penekanan.Heri memiringkan kepalanya sedikit, memasang raut wajah polos nan bingung. "Hal apa itu, Mas Bagas? Soal laporan keuangan rest
Sore itu, Bagas kembali hadir di restoran Heri dengan kemeja sutra mahal dan senyum percaya diri yang mengembang. Ia langsung melangkah menuju meja bar tempat Heri sedang mengawasi pembukuan harian."Mas Heri! Lihat ini, saya bawakan kue kismis dari toko bakery langganan pejabat di pusat kota buat staf dapur," ujar Bagas dengan suara lantang, meletakkan dua kotak besar berhias pita emas di atas meja bar.Heri menoleh, menyunggingkan senyum ramah yang terlihat amat lugu dan antusias. "Wah, Mas Bagas ini repot-repot amat. Kasihan staf saya nanti jadi tuman dikasih kado mewah terus sama investor keren seperti Mas Bagas."Bagas terkekeh renyah, menepuk bahu Heri dengan keakraban yang dibuat-buat. "Ah, kecil itu, Mas Heri! Buat calon mitra bisnis besar, hal begini mah bukan apa-apa. Lagipula, saya itu makin kagum sama Mas Heri.""Kagum sama saya? Kagum dalam hal apa, Mas Bagas?" tanya Heri berpura-pura heran, sambil merapikan catatan di tangannya."Mas Heri ini pebisnis genius!" puji Bagas
Dua minggu pasca kepulangan dari bulan madu yang manis dan penuh gairah di Labuan Bajo, Heri kembali disibukkan oleh operasional restorannya yang kini melesat pesat dan makin populer di pusat kota.Setiap malam, meja-meja reservasi selalu terisi penuh. Namun, keberhasilan Heri rupanya mengundang rasa iri dari para kompetitor lama yang merasa tersaing keras.Mereka diam-diam menyewa Bagas, seorang pria berpenampilan elegan, necis, dan mengenakan setelan jas bermerek, untuk mengacaukan dan menghancurkan bisnis Heri dari dalam.Siang itu, Bagas mendatangi restoran Heri dengan gaya memikat. Ia melangkah penuh percaya diri, sengaja memperlihatkan jam tangan mewahnya saat menyalami Heri di area ruang makan utama.Bagas berpura-pura menjadi investor kaya yang terkesan dengan sistem manajemen restoran Heri dan mengaku berniat menyuntikkan dana segar dalam jumlah fantastis.Heri menyambut Bagas dengan raut wajah amat ramah. Ia menjabat tangan pria itu erat-erat, memasang senyum lebar, dan menu
Sinar matahari pagi menyinari area private infinity pool di luar vila. Air kolam yang jernih memantulkan kilau biru keemasan, menghadap langsung ke arah lautan lepas. Sintya yang baru selesai berenang sejenak berdiri di pinggir kolam.Tetesan air membasahi kulit mulusnya yang terpapar sinar pagi, meluncur turun melewati lekuk tubuhnya yang padat dan sintal.Heri keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih agak basah. Pria itu hanya mengenakan celana pendek kasual, membiarkan dada bidang dan perut berototnya terbuka bebas.Langkah kakinya terhenti saat pandangannya tertuju pada siluet tubuh istrinya di tepi kolam.Sorot mata Heri memanas. Postur Sintya yang membelakanginya benar-benar terlihat sangat padat, menantang, dan memancing hasrat jantannya."Belum puas main airnya, Sayang?" panggil Heri dengan suara bariton rendahnya yang hangat.Sintya menoleh, melemparkan senyum manja yang amat memikat. "Airnya segar banget, Her. Sini masuk, hangat kena matahari pagi."Tanpa membuang wa
Vila mewah bernuansa eksotis di atas tebing Labuan Bajo menyambut kedatangan Heri dan Sintya di sore hari.Pemandangan laut biru yang membentang luas serta hamparan pulau-pulau kecil di kejauhan terlihat amat memukau, dibiaskan oleh sinar matahari senja yang berwarna keemasan.Sintya melangkah ke area balkon privat kamar mereka dengan napas terkagum-kagum.Ia membiarkan terpaan angin laut menyapu lembut gaun pantai tipis berwarna putih yang membungkus ketat lekuk tubuhnya yang sintal."Her, ini bagus banget..." ucap Sintya mengagumi pemandangan di depannya. "Indah banget lautnya."Heri melangkah tenang dari belakang. Pria itu sudah melepas kemejanya, hanya mengenakan celana pendek santai yang memperlihatkan dada bidang serta otot-otot perutnya yang keras.Heri merangkul pinggang sintal istrinya dari belakang dengan amat erat, menarik punggung mulus Sintya hingga menempel rapat di dadanya.Heri menyandarkan dagunya di bahu Sintya, menghirup aroma wangi tubuh istrinya yang beradu dengan
Pagi hari di area keberangkatan bandara internasional diwarnai oleh suasana yang hangat dan sibuk.Heri tampil santai namun tetap memancarkan aura maskulin yang kuat dalam balutan kemeja kasual yang membungkus rapi dada bidangnya.Di sampingnya, Sintya terlihat teramat cantik dan segar mengenakan gaun terusan simpel berwarna pastel yang menonjolkan lekuk tubuh sintalnya.Maman dan Karin berdiri mengantarkan pasangan pengantin baru itu yang bersiap terbang menuju Labuan Bajo untuk menikmati bulan madu mereka."Semua urusan restoran aman di tangan aku sama Karin, Her. Kamu fokus aja menikmati honeymoon," ujar Maman dengan suara baritonnya yang mantap sembari menjabat tangan Heri erat-erat.Heri menepuk bahu Maman dengan tegas. "Aku percayakan restoran penuh sama kamu, Man. Kalau ada masalah operasional yang mendesak, langsung hubungi aku."Karin memeluk Sintya singkat. "Selamat jalan ya, Sintya! Jangan lupa oleh-olehnya, dan pulang-pulang harus udah bawa kabar gembira!"Sintya terkekeh
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri







