LOGINSinar matahari pagi menyinari area private infinity pool di luar vila. Air kolam yang jernih memantulkan kilau biru keemasan, menghadap langsung ke arah lautan lepas. Sintya yang baru selesai berenang sejenak berdiri di pinggir kolam.Tetesan air membasahi kulit mulusnya yang terpapar sinar pagi, meluncur turun melewati lekuk tubuhnya yang padat dan sintal.Heri keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih agak basah. Pria itu hanya mengenakan celana pendek kasual, membiarkan dada bidang dan perut berototnya terbuka bebas.Langkah kakinya terhenti saat pandangannya tertuju pada siluet tubuh istrinya di tepi kolam.Sorot mata Heri memanas. Postur Sintya yang membelakanginya benar-benar terlihat sangat padat, menantang, dan memancing hasrat jantannya."Belum puas main airnya, Sayang?" panggil Heri dengan suara bariton rendahnya yang hangat.Sintya menoleh, melemparkan senyum manja yang amat memikat. "Airnya segar banget, Her. Sini masuk, hangat kena matahari pagi."Tanpa membuang wa
Vila mewah bernuansa eksotis di atas tebing Labuan Bajo menyambut kedatangan Heri dan Sintya di sore hari.Pemandangan laut biru yang membentang luas serta hamparan pulau-pulau kecil di kejauhan terlihat amat memukau, dibiaskan oleh sinar matahari senja yang berwarna keemasan.Sintya melangkah ke area balkon privat kamar mereka dengan napas terkagum-kagum.Ia membiarkan terpaan angin laut menyapu lembut gaun pantai tipis berwarna putih yang membungkus ketat lekuk tubuhnya yang sintal."Her, ini bagus banget..." ucap Sintya mengagumi pemandangan di depannya. "Indah banget lautnya."Heri melangkah tenang dari belakang. Pria itu sudah melepas kemejanya, hanya mengenakan celana pendek santai yang memperlihatkan dada bidang serta otot-otot perutnya yang keras.Heri merangkul pinggang sintal istrinya dari belakang dengan amat erat, menarik punggung mulus Sintya hingga menempel rapat di dadanya.Heri menyandarkan dagunya di bahu Sintya, menghirup aroma wangi tubuh istrinya yang beradu dengan
Pagi hari di area keberangkatan bandara internasional diwarnai oleh suasana yang hangat dan sibuk.Heri tampil santai namun tetap memancarkan aura maskulin yang kuat dalam balutan kemeja kasual yang membungkus rapi dada bidangnya.Di sampingnya, Sintya terlihat teramat cantik dan segar mengenakan gaun terusan simpel berwarna pastel yang menonjolkan lekuk tubuh sintalnya.Maman dan Karin berdiri mengantarkan pasangan pengantin baru itu yang bersiap terbang menuju Labuan Bajo untuk menikmati bulan madu mereka."Semua urusan restoran aman di tangan aku sama Karin, Her. Kamu fokus aja menikmati honeymoon," ujar Maman dengan suara baritonnya yang mantap sembari menjabat tangan Heri erat-erat.Heri menepuk bahu Maman dengan tegas. "Aku percayakan restoran penuh sama kamu, Man. Kalau ada masalah operasional yang mendesak, langsung hubungi aku."Karin memeluk Sintya singkat. "Selamat jalan ya, Sintya! Jangan lupa oleh-olehnya, dan pulang-pulang harus udah bawa kabar gembira!"Sintya terkekeh
Pintu tebal kamar utama apartemen tertutup rapat dengan bunyi klik yang bergema di tengah keheningan malam.Heri memutar kunci dua kali. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat intens, hangat, dan dipenuhi ketegangan fisik yang tebal.Lampu tidur menyala redup, membiaskan cahaya keemasan yang menimpa siluet tubuh Sintya saat wanita itu berdiri di dekat meja rias untuk melepas perhiasannya.Heri melepas jas formalnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa kamar.Kemeja putihnya yang membungkus dada bidang kini terbuka di dua kancing atas. Langkah kakinya lebar dan mantap saat mengikis habis jarak di antara mereka.Dari belakang, Heri langsung merengkuh tubuh molek Sintya. Tangan besarnya memeluk pinggul sintal sang istri, menempelkan dada kerasnya ke punggung halus Sintya.Heri menundukkan kepala, menghirup dalam-dalam aroma wangi di ceruk leher Sintya, lalu melancarkan ciuman-ciuman menuntut di sepanjang garis rahang wanita itu."Her..." desah Sintya pelan, mendongakkan kepala
Malam harinya, suasana pesta pernikahan berlanjut di restoran milik Heri yang telah didekorasi secara hangat, privat, dan menawan.Suasana riuh rendah oleh tawa dan obrolan santai mewarnai setiap sudut ruangan. Kerabat, seluruh staf restoran, serta sahabat-sahabat dekat Heri dan Sintya menikmati aneka hidangan lezat yang tersaji melimpah.Musik akustik mengalun pelan di latar belakang, menambah kenyamanan malam syukuran tersebut.Heri berdiri di dekat meja utama memakai kemeja hitam formal yang digulung rapi hingga batas siku.Tangannya merangkul pinggang Sintya yang tampil makin memikat dalam balutan gaun malam simpel berwarna merah marun."Selamat ya, Her! Akhirnya sah juga sama Sintya!" sapa Aris, koki kepala restoran, sembari menjabat tangan Heri dengan erat."Terima kasih, Ris. Terima kasih juga sudah menyiapkan sajian luar biasa malam ini," jawab Heri dengan suara baritonnya yang ramah dan mantap."Tenang saja, Pak Bos. Semua koki dapur bongkar resep terbaik malam ini!" seloroh
Dua minggu berlalu cepat hingga hari pernikahan yang dinanti akhirnya tiba. Kapel kecil di pinggir kota itu dihiasi hamparan bunga segar berwarna putih dan krem. Suasana terasa sangat anggun, tenang, dan sakral.Heri berdiri di depan altar mengenakan setelan jas formal pas badan berwarna hitam.Posturnya berdiri lurus dan tegap, memancarkan wibawa yang amat kuat. Kedua tangannya bertaut di depan, menanti calon istrinya melangkah masuk.Pintu kayu kapel perlahan terbuka. Suasana mendadak menjadi sangat syahdu saat dentingan piano mengalun lembut.Sintya melangkah menyusuri lorong didampingi alunan musik, mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading berbentuk sederhana namun amat elegan. Gaun itu membungkus rapi lekuk tubuhnya yang sintal.Heri menatap calon istrinya tanpa berkedip. Senyum tipis terukir di wajahnya saat Sintya akhirnya tiba di sampingnya. Heri mengulurkan tangan, menyambut jemari Sintya dan membimbingnya berdiri sejajar di hadapan pemuka agama."Apakah Saudara Heri b
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







