“Loviana, mundur!” seru Nicko tegas.Loviana yang masih memegang alat pemanggang langsung tersentak. Bahunya terangkat karena kaget, kemudian ia buru-buru menoleh mengikuti arah pandangan Nicko. Begitu matanya menangkap kobaran api yang mulai menjilat bagian sisi tenda, wajahnya seketika berubah pucat. Matanya membulat lebar, bibirnya sedikit terbuka, dan tangan yang masih memegang alat pemanggang perlahan terangkat ke depan mulutnya. “Ya ampun!” pekiknya dengan suara melengking. Anehnya, di antara orang-orang yang mulai panik, justru Loviana yang reaksinya paling heboh. Ia mondar-mandir kecil sambil menunjuk-nunjuk tenda yang terbakar dengan wajah panik, bahkan sesekali melompat kecil karena terkejut setiap kali api membesar. Seolah-olah ia sama sekali tidak menyadari bahwa sumber awal kekacauan itu justru berasal dari aktivitasnya sendiri memanggang ikan.Dalam waktu yang sangat singkat, api menjalar semakin tinggi. Kain bagian luar tenda mulai menghitam dan mengeluarkan asap tebal
Read more