Belvara menatap nanar Ibra, penuh pertanyaan tersirat. Kenapa harus sampai sejuh itu? “Tenang, Mba. ini hanya formalitas, walaupun disini tertulis Saya sebagai suami, Saya tidak akan meminta hak seorang suami sama, Mba, Ko.” ibra mengulas senyum, nampak terlihat cekungan di pipinya.Kendati begitu, tidak ada pilihan lain baginya, perasaannya memberikan sinyal bahwa apa yang Ibra lakukan adalah murni ketulusan, tidak ada niat apapun dari pria itu, selain berniat memisahkannya dengan Hagan.“Besok Saya antar, Mba pindah ke rumah di pinggiran kota sana.”Belvara menganggukkan kepala. “baik , Mas Ibra.”Belvara hanya berharap, semoga dikehidupannya saat ini, tidak kembali ia temui kemalangan.***Perjalanan menuju rumah yang Ibra tunjukan melewati perbukitan dan hamparan sawah hijau, Belvara terbelalak menatapnya. Sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan asri seperti itu.“Mas, ini kayak desa?”Ibra yang sedang menyetir menyunggingkan bibir. “Iya, apa keberatan jika tinggal di desa?
Read more