Belvara mematung sepersekian detik ketika ia membuka pintu, Ibra sudah berdiri dengan satu tangan menopang pada kusen pintu. “Ada apa, Mas Ibra?”“Mba, kita ngobrol di dalam.” Ibra masuk lebih dulu, dan duduk di tepi ranjang, matanya fokus mengamati lekuk tubuh Belvara yang terbingkai daster yang panjangnya hanya sepaha, membuat paha putih mulusnya sedikit terekspos.Belvara berdiri dan menyaarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, pintunya sengaja ia buka lebar agar tidak timbul fitnah jika Ibu tidak sengaja lewat dan menoleh ke arah kamarnya.“Ibu merestui hubungan kita, apa gak sebaiknya kalau kita nikah aja?”Belvara menautkan alis, menatap Ibra tak percaya. “Mas, Kamu bisa dapat perempuan yang lebih segalanya dari Aku.”Ibra menunduk, seolah sedang menahan sesuatu, kemudian menatap Belvara cukup dalam. “Mba, sebenarnya… Saya punya kelainan seksual.”“Maksud, Mas?” kerutan di dahi Belvara semakin bertambah. “Saya gak pernah tertarik sama perempuan, tapi, semenjak Saya bertemu Mba,
Read More