"Kalau kita tidak bisa meretas mata itu, riwayat kita tamat hari ini juga, Braelyn!" seru Kael histeris, jemarinya mencakar konsol kosong yang mati total.Peretas muda itu mundur selangkangan saat bayangan hitam makhluk bermata seribu membentang menutupi seluruh kubah langit yang runtuh. Udara di sekitarnya mendadak memadat, menekan rongga dada hingga terasa seperti menelan serpihan kaca tajam. Keringat dingin bercampur darah segar mengalir deras membasahi kerah jaketnya yang robek. Suara desis frekuensi rendah bergetar hebat di dalam tengkorak mereka, memicu rasa pusing luar biasa."Jangan biarkan rasa takut menguasai sistem sarafmu, Kael, cari celah frekuensi terlemah di inti mata itu!" bentak Braelyn tajam, berdiri tegak dengan sisa tenaga yang bergolak di nadinya.Wanita itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, memaksa aliran darah keturunan Wilson membakar kembali kulit telapak tangannya yang sempat padam. Pendaran emas tipis kembali menyala terang di ant
Baca selengkapnya