ログイン"Jangan lepaskan pegangan tanganmu, tarikan gravitasi di sini merobek struktur molekul tubuh kita!" raung Kael tertahan, menepis serpihan kode biner yang melesat bagai silet tajam.
Pusaran hitam itu berputar semakin cepat, menghantam mereka dengan gelombang friksi kosmik yang membakar kulit. Cahaya keemasan di telapak tangan Braelyn meredup perlahan, tergerus oleh lautan data merah yang mendominasi lorong dimensi. Keheningan pekat mendadak mencengkeram tenggorokan, membuat setiap isapa
"Jangan lepaskan pegangan tanganmu, tarikan gravitasi di sini merobek struktur molekul tubuh kita!" raung Kael tertahan, menepis serpihan kode biner yang melesat bagai silet tajam.Pusaran hitam itu berputar semakin cepat, menghantam mereka dengan gelombang friksi kosmik yang membakar kulit. Cahaya keemasan di telapak tangan Braelyn meredup perlahan, tergerus oleh lautan data merah yang mendominasi lorong dimensi. Keheningan pekat mendadak mencengkeram tenggorokan, membuat setiap isapan oksigen terasa bagai serpihan kaca. Tubuh mereka meluncur tajam menembus dinding-dinding memori yang merekam seluruh kehancuran masa lalu. Lorong sempit itu berdengung nyaring, mengeluarkan frekuensi suara yang menggetarkan isi kepala hingga nyaris memecahkan gendang telinga."Kita jatuh ke dalam pusat memori utama, tempat di mana seluruh sejarah palsu ini pertama kali ditulis," ujar Braelyn tajam, menatap hamparan layar raksasa yang mengelilingi ruang hampa.Ribuan layar itu men
"Bangun, Kael! Kalau lu menyerah di sini, segalanya benar-benar hancur!" teriak Braelyn, mengguncang tubuh peretas muda itu dengan panik.Pelipis Kael mengalirkan darah segar yang membasahi tanah hangus di sekeliling kawah. Suara dengung balok laser langit semakin memekakkan telinga, menggetarkan seluruh partikel udara di sekitar mereka. Braelyn melirik tajam ke arah langit utara di mana bola mata merah raksasa mulai memfokuskan energi pamungkasnya. Panas gelombang kejut membakar kulit punggungnya yang terkoyak tanpa ampun. Debu vulkanik beterbangan menutupi sisa-sisa reruntuhan hutan purba yang hangus terbakar."Aku... aku tidak bisa merasakan kakiku, Braelyn," bisik Kael terbatuk-batuk, membuka matanya perlahan dengan pandangan kabur.Pria itu berusaha merangkak meraih kabel optik yang tergeletak di dekat batu karang besar. Tenaganya merosot drastis akibat sengatan gelombang mental komandan musuh sebelumnya. Sinar merah dari langit jatuh menyapu pepohonan di s
"Cakar baja itu bukan sisa mesin tiruan, tanah ini sedang merobek dirinya sendiri untuk menelan kita hidup-hidup!" teriak Kael histeris, melompat mundur sejauh dua meter dari bibir kawah.Tanah purba di bawah kaki mereka bergetar hebat melebihi guncangan gempa vulkanik biasa. Retakan bercahaya biru menjalar cepat melintasi batang pohon raksasa di sekeliling area kawah. Debu tebal beraroma belerang mengepul pekat menutup pandangan mata. Braelyn berdiri kokoh tanpa bergeming, menatap lurus ke arah lengan raksasa yang terus mendesak naik ke permukaan."Jangan panik, cari titik tumpuan pada batu karang di sebelah kiri sebelum seluruh tanah ini runtuh!" perintah Braelyn lantang.Pendaran emas di telapak tangannya menyala semakin terang menerangi kegelapan hutan yang tertutup asap. Wanita itu melangkah maju mendekati bibir kawah dengan tatapan penuh siaga tinggi. Suara derit logam purba bergesekan dengan batu karang memekakkan telinga. Entitas di dalam tanah mengaum b
"Armada itu bukan sisa pasukan lama, ukuran kapal induk di tengah sana melampaui seluruh kapasitas radar darurat kita!" seru Kael histeris, jemarinya mencengkeram erat tepi kawah.Cahaya merah darah membakar angkasa utara, menciptakan pantulan mengerikan di permukaan air laut yang mulai mendidih. Ribuan pesawat tempur tanpa awak meluncur turun membelah awan dengan kecepatan hipersonik. Suara dengung mesin berfrekuensi tinggi menghantam gendang telinga, memicu getaran hebat di dalam dada. Braelyn menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa nyeri yang masih mendera sekujur persendiannya."Mereka sengaja memancing kita keluar dari reruntuhan simulasi untuk menghabisi sisa perlawanan di alam nyata," ucap Braelyn dingin, menatap tajam ke arah langit.Pendaran emas di telapak tangannya berdenyut lemah, merespons kehadiran energi masif yang dipancarkan oleh armada kosmik tersebut. Tanah di sekitar mereka kembali berderit, menampakkan celah-celah baru yang mengeluarkan uap pa
"Tangkap kabel pengaman ini sebelum tarikan gravitasi hampa merobek tubuhmu!" teriak Kael, suaranya teredam oleh desingan angin vakum yang memekakkan telinga.Braelyn melayang liar di tengah pusaran serpihan logam yang terbakar akibat ledakan lambung kapal piramida. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih luar biasa yang meremukkan otot bahunya. Bola kristal api biru terlepas dari genggaman sang arsitek, meluncur berputar bebas ke dalam jurang angkasa luar. Ruang hampa di sekitar mereka mendadak bergetar hebat, memancarkan gelombang kejut keperakan yang membelah awan."Aku tidak bisa meraihnya, tarikan di sisi kiri terlalu kuat!" balas Braelyn tersengal-sengal, menendang keras sisa panel baja yang melintas di depannya.Kael mengaitkan kait pengaman pada sabuk daruratnya, melompat menerjang badai serpihan demi menggapai pergelangan tangan Braelyn. Peretas muda itu mendesis kesakitan saat hantaman puing tajam merobek sisi jaket
"Armada itu bukan bagian dari sisa simulasi, Kael, lambang di lambung kapal itu membawa tanda tangan asli para leluhur pertama!" teriak Braelyn, matanya membelalak menatap langit barat."Tanda tangan leluhur bagaimana maksudmu? Kita baru saja keluar dari reruntuhan kubikal Adrian dan sekarang menyambut kapal piramida raksasa?" balas Kael tersengal-sengal, meraba saku jaketnya yang kosong melompong.Peretas muda itu mengatupkan rahangnya rapat-rapat saat deburan ombak di pantai mulai berubah warna menjadi kelam. Pasir putih bersih di bawah kaki mereka bergetar hebat memunculkan retakan-retakan kecil bercahaya biru terang. Suara dengung frekuensi tinggi berdengking keras di dalam gendang telinga, memecah ketenangan pagi di tepian samudra. Armada berbentuk piramida itu semakin mendekat dengan formasi melingkar yang menutupi separuh cakrawala."Mereka bukan penyelamat, melainkan hakim agung yang datang untuk menghapus jejak anomali kita," ucap Braelyn dingin, mengam
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn
“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,







