Share

Langit Kosong

Author: qia
last update publish date: 2026-08-21 21:34:02

"Tangkap kabel pengaman ini sebelum tarikan gravitasi hampa merobek tubuhmu!" teriak Kael, suaranya teredam oleh desingan angin vakum yang memekakkan telinga.

Braelyn melayang liar di tengah pusaran serpihan logam yang terbakar akibat ledakan lambung kapal piramida. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih luar biasa yang meremukkan otot bahunya. Bola kristal api biru terlepas dari genggaman sang arsitek, meluncur berputar bebas ke dalam jurang angka

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Mati di Pernikahanku   Badai Merah di Cakrawala

    "Armada itu bukan sisa pasukan lama, ukuran kapal induk di tengah sana melampaui seluruh kapasitas radar darurat kita!" seru Kael histeris, jemarinya mencengkeram erat tepi kawah.Cahaya merah darah membakar angkasa utara, menciptakan pantulan mengerikan di permukaan air laut yang mulai mendidih. Ribuan pesawat tempur tanpa awak meluncur turun membelah awan dengan kecepatan hipersonik. Suara dengung mesin berfrekuensi tinggi menghantam gendang telinga, memicu getaran hebat di dalam dada. Braelyn menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa nyeri yang masih mendera sekujur persendiannya."Mereka sengaja memancing kita keluar dari reruntuhan simulasi untuk menghabisi sisa perlawanan di alam nyata," ucap Braelyn dingin, menatap tajam ke arah langit.Pendaran emas di telapak tangannya berdenyut lemah, merespons kehadiran energi masif yang dipancarkan oleh armada kosmik tersebut. Tanah di sekitar mereka kembali berderit, menampakkan celah-celah baru yang mengeluarkan uap pa

  • Aku Mati di Pernikahanku   Langit Kosong

    "Tangkap kabel pengaman ini sebelum tarikan gravitasi hampa merobek tubuhmu!" teriak Kael, suaranya teredam oleh desingan angin vakum yang memekakkan telinga.Braelyn melayang liar di tengah pusaran serpihan logam yang terbakar akibat ledakan lambung kapal piramida. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih luar biasa yang meremukkan otot bahunya. Bola kristal api biru terlepas dari genggaman sang arsitek, meluncur berputar bebas ke dalam jurang angkasa luar. Ruang hampa di sekitar mereka mendadak bergetar hebat, memancarkan gelombang kejut keperakan yang membelah awan."Aku tidak bisa meraihnya, tarikan di sisi kiri terlalu kuat!" balas Braelyn tersengal-sengal, menendang keras sisa panel baja yang melintas di depannya.Kael mengaitkan kait pengaman pada sabuk daruratnya, melompat menerjang badai serpihan demi menggapai pergelangan tangan Braelyn. Peretas muda itu mendesis kesakitan saat hantaman puing tajam merobek sisi jaket

  • Aku Mati di Pernikahanku   Bayangan Biru di Ujung Laut

    "Armada itu bukan bagian dari sisa simulasi, Kael, lambang di lambung kapal itu membawa tanda tangan asli para leluhur pertama!" teriak Braelyn, matanya membelalak menatap langit barat."Tanda tangan leluhur bagaimana maksudmu? Kita baru saja keluar dari reruntuhan kubikal Adrian dan sekarang menyambut kapal piramida raksasa?" balas Kael tersengal-sengal, meraba saku jaketnya yang kosong melompong.Peretas muda itu mengatupkan rahangnya rapat-rapat saat deburan ombak di pantai mulai berubah warna menjadi kelam. Pasir putih bersih di bawah kaki mereka bergetar hebat memunculkan retakan-retakan kecil bercahaya biru terang. Suara dengung frekuensi tinggi berdengking keras di dalam gendang telinga, memecah ketenangan pagi di tepian samudra. Armada berbentuk piramida itu semakin mendekat dengan formasi melingkar yang menutupi separuh cakrawala."Mereka bukan penyelamat, melainkan hakim agung yang datang untuk menghapus jejak anomali kita," ucap Braelyn dingin, mengam

  • Aku Mati di Pernikahanku   Tatapan Sang Penguasa Waktu

    "Kalau kita tidak bisa meretas mata itu, riwayat kita tamat hari ini juga, Braelyn!" seru Kael histeris, jemarinya mencakar konsol kosong yang mati total.Peretas muda itu mundur selangkangan saat bayangan hitam makhluk bermata seribu membentang menutupi seluruh kubah langit yang runtuh. Udara di sekitarnya mendadak memadat, menekan rongga dada hingga terasa seperti menelan serpihan kaca tajam. Keringat dingin bercampur darah segar mengalir deras membasahi kerah jaketnya yang robek. Suara desis frekuensi rendah bergetar hebat di dalam tengkorak mereka, memicu rasa pusing luar biasa."Jangan biarkan rasa takut menguasai sistem sarafmu, Kael, cari celah frekuensi terlemah di inti mata itu!" bentak Braelyn tajam, berdiri tegak dengan sisa tenaga yang bergolak di nadinya.Wanita itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, memaksa aliran darah keturunan Wilson membakar kembali kulit telapak tangannya yang sempat padam. Pendaran emas tipis kembali menyala terang di ant

  • Aku Mati di Pernikahanku   Nyawa di Ujung Retakan

    "Pegang erat tanganku, kalau lu lepas sekarang, keberadaan lu bakal terhapus tanpa sisa!" teriak Braelyn di tengah badai data merah yang menyayat udara.Tubuh mereka melesat bebas menembus lorong piksel yang berputar liar dengan kecepatan kilat. Suara dengung frekuensi tinggi menghantam gendang telinga bagai ribuan jarum tajam. Braelyn mengerahkan seluruh sisa pendaran emas di telapak tangannya untuk menepis serpihan kode biner yang beterbangan. Cahaya merah dari mata raksasa di bawah sana semakin membesar, menelan seluruh ruang pandang mereka dalam sekejap."Aku tidak bisa merasakan jemariku lagi, rasanya seperti tubuhku tercabut dari tulang!" balas Kael tersengal-sengal di sampingnya.Peretas muda itu memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang panas membakar kulit wajahnya. Tarikan gravitasi mendadak berbalik arah menjadi dorongan mahadahsyat yang melemparkan mereka keluar dari pusaran. Benturan keras menghantam lantai logam tipis yang bergetar hebat di bawah

  • Aku Mati di Pernikahanku   Cermin di Ujung Semesta

    "Kalian mengira air palung itu akan membawa pada kebebasan, padahal itu hanya saluran pembuangan akhir dari sejarah," suara dingin itu memecah keheningan ruangan.Sosok wanita berambut perak tersebut perlahan membalikkan badannya menghadap ke arah dua buronan yang basah kuyup. Tatapan matanya yang keperakan memantulkan kilau api dari kehancuran galaksi di balik jendela kaca raksasa. Jubah putih panjangnya berkibar lembut tertiup angin hampa yang merembes dari celah dinding yang retak. Di tangannya, sebuah bola kristal berdenyut memancarkan frekuensi yang sama persis dengan yang mereka temui di kuil purba."Siapa kau sebenarnya, kenapa semua hal di tempat ini selalu berpusat pada garis keturunan kami?" bentak Kael, suaranya bergetar menahan amarah dan sisa rasa takut yang mencekam.Wanita itu tersenyum tipis tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun di garis wajahnya yang pucat. Langkah kakinya mendekat perlahan dengan irama yang tenang di atas ubin logam yang berg

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pertemuan Pertama dengan Eryx Caspian

    “Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Tidak Akan Menjadi Korban Lagi

    “Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Kembali ke Tiga Tahun Lalu

    “Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kematian Braelyn di Hari Pernikahannya

    “Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status