Jayden menggeser pandangannya dari Javendra, kini sepenuhnya memusatkan perhatian pada pria paruh baya di hadapannya. Kerutan di dahinya justru semakin dalam, tanda bahwa rasa ingin tahunya telah terusik. Tuan Tan Yung tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengembuskan napas panjang secara perlahan, menciptakan jeda yang sengaja diulur demi memberikan efek dramatis, sekaligus memberikan waktu bagi otaknya untuk menyusun kebohongan yang paling rapi. Ia tahu, satu kata saja salah terucap, maka tamatlah sudah nasib perusahaannya di tangan Javendra. "Mr. Jayden," Tuan Tan Yung memulai kembali, suaranya terdengar begitu tenang dan tertata, sangat lihai menyembunyikan kepanikan yang sebenarnya bergejolak di dalam dada. "Di dunia bisnis seperti kita, sebutan pasangan atau partner tidak melulu soal hubungan asmara atau komitmen pernikahan, bukan?" Jayden tidak bergeming. Ia tetap melipat tangan, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan tatapan menguliti. "Maksud saya dengan kata pasangan t
閱讀更多