Javendra tidak bisa menahan diri lagi saat tangan Sasa meremas miliknya. Pria itu menggeram keras, lalu mengepung tubuh Sasa di atas meja, membuat dada mereka yang polos saling bergesekan intim. Sasa benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak peduli lagi pada rasa malunya. Matanya menatap liar pada otot dada Javendra yang naik turun basah oleh keringat. "Tuan... ahh, keras sekali... saya mau lagi," bisik Sasa dengan suara terengah-engah, sengaja menggesekkan dadanya yang besar ke tubuh kekar Javendra. "Hentak saya lebih dalam, Tuan Javen..." Javendra menatap Sasa dengan pandangan yang sangat gelap. Ia sendiri heran dengan tubuhnya. Selama ini ia tidak pernah sebuas ini pada wanita lain, tapi di depan Sasa, kejantanannya selalu menegang maksimal dan ingin terus mengurung gadis ini. "Kamu yang meminta, Sasa," bisik Javendra serak tepat di depan bibir Sasa. Tanpa aba-aba, Javendra langsung menghantamkan miliknya masuk kembali dengan satu sentakan yang sangat kuat dan dalam
Read more