Javendra melangkah keluar dari kamar rawat VVIP, menutup pintu rapat-rapat hingga menyisakan keheningan di koridor rumah sakit yang sepi. Dia menempelkan ponselnya ke telinga, menekan tombol jawab dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat dingin. "Ya, Ibu," sapa Javendra, suaranya terdengar datar dan tanpa ekspresi. Di seberang telepon, suara Amara terdengar tidak sabar, langsung pada inti masalah tanpa basa-basi. "Javendra, kamu ini di mana sebenarnya? Kenapa asistenmu bilang kamu sangat sibuk dan tidak bisa diganggu sama sekali?" Javendra bersandar pada dinding koridor, sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana. "Ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan sendiri, Ibu. Ada apa?" "Urusan mendesak apa sampai kamu mengabaikan tunanganmu sendiri?" cecar Amara, nadanya terdengar menuntut penjelasan. "Baru saja Jeng Miranda menelepon dari rumah sakit. Dia mengadu kalau Claudia sedang dirawat karena kelelahan setelah belanja kemarin, tapi kamu sama sekali tidak mau dat
Read more