Javendra tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya, membelakangi Claudia sejenak untuk meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana. Gerakannya yang tenang justru membuat suasana di dalam kamar terasa semakin mencekam. "Aku ini pria yang sangat logis, Claudia. Kamu tahu itu," ujar Javendra, membalikkan badan dengan gerakan lambat. "Aku tidak pernah percaya pada hal yang tidak masuk akal, termasuk perubahan sikapmu yang mendadak menjadi sangat pemaaf dan menerima." Claudia menelan ludah, mencoba mempertahankan posisinya di depan pintu. "Javen, aku sudah bilang, itu karena aku mencintaimu—" "Jangan gunakan alasan cinta untuk menutupi sesuatu yang tidak rasional," potong Javendra, suaranya naik satu oktav, dingin dan tajam. "Mari kita bedah satu per satu. Malam itu di hotel, kamu mengamuk seperti orang gila sampai merusak barang. Tapi keesokan harinya, kamu mendadak berubah menjadi wanita penyabar yang menerima kondisiku tanpa menuntut apa pun. Perubahan
Baca selengkapnya