"Bukan begitu, suamiku Sayang. Oke, aku tidak akan kaget lagi ke depannya." Sasa terkekeh. "Bagus, kamu harus selalu biasakan." Javendra mencium kening Sasa. "Iya, jadi memang mereka langsung menuju rumah sakit setelah beristirahat sebentar di hotel," jelas Javendra. "Mas sudah minta dokter kepala di sana untuk menyiapkan seluruh rekam medis Ibu Andini secara lengkap. Jadi begitu tim dokter Jerman sampai, mereka bisa langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh tanpa membuang waktu." "Semoga ada kabar baik ya, Mas," bisik Sasa penuh harap. "Aku rindu sekali melihat Ibu tersenyum. Aku rindu mendengar suara Ibu memanggil namaku." "Pasti ada kabar baik," sahut Javendra menenangkan. "Ibu Andini itu wanita yang sangat kuat. Beliau sudah bertahan sejauh ini demi kamu. Mas yakin beliau pasti akan berjuang untuk siuman." "Iya, Mas. Aku percaya itu." Javendra mengecup puncak kepala Sasa sekali lagi, membiarkan keheningan manis kembali menyelimuti mereka berdua. Bagi Sasa, momen sepe
Magbasa pa