Dengan air mata yang kian deras membasahi pipinya, Sasa merengkuh barang kedua dari dalam pouch sutra tersebut: amplop kertas tebal. Di bagian depan amplop, terukir deretan kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat indah, rapi, dan berlekuk anggun:[ Untuk Putri Kecilku yang Akan Melihat Dunia, dan Untuk Sahabat Sejatiku, Andini] Jemari Sasa bergetar sangat hebat hingga kertas tebal itu berbunyi gemeretak di tangannya. Dengan kehati-hatian luar biasa, Sasa membuka segel amplop tua yang sudah rapuh tersebut. Di dalamnya terdapat dua lembar kertas kain tebal berisi goresan tinta hitam yang sama indahnya. Sasa mendekatkan kertas itu ke dadanya sejenak, memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya, sebelum akhirnya mulai membaca baris demi baris tulisan tangan ibu kandungnya dari masa lalu. [Anakku tersayang, bunga kecilku... ][ Saat kamu membaca lembaran kertas ini, ibu mungkin sudah tidak lagi berada di sisimu untuk memelukmu, m
Read more