Malam baru saja melingkupi kediaman Maheswara, tetapi kehangatan di kamar utama lantai bawah tak sepenuhnya mampu mengusir ketegangan yang mendadak merayap. Javendra berdiri di dekat jendela kaca besar, mengancingkan kemeja santainya dengan satu tangan kanan yang bebas, sementara bahu kirinya masih tertahan kain penyangga. Pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke arah Sasa yang sedang duduk di tepi ranjang. "Tidak, Sasa. Aku tidak mengizinkanmu," tegas Javendra. Suaranya berat dan tidak menerima bantahan. Sasa menghela napas pelan. Ia bangkit dari kasur, melangkah mendekati suaminya dengan perlahan. "Mas Javen, dengarkan aku dulu. Kenzo cuma mau bicara sebentar di paviliun. Dia tidak ada niat buruk sama sekali." Javendra berbalik, menatap Sasa dengan raut wajah yang mengeras. "Kamu lupa siapa dia, Sasa? Pria itu punya perasaan tidak wajar padamu. Cinta gila, obsesi, atau apa pun kamu menyebutnya. Aku tidak akan membiarkan pria yang pernah menginginkan istriku duduk berdua
Read more