Namun, di atas semua urusan warisan, kekayaan, dan porsi saham perusahaan, hati Amara yang sekarang berbisik jauh lebih dalam. Sebelum memikirkan calon anak itu sebagai calon penerus imperium Maheswara, Amara hanya ingin menikmati satu kenyataan sederhana, anak itu adalah cucunya. Cucunya yang berhak mendapatkan kasih sayang utuh dari seorang nenek. Amara merindukan kesempatan untuk hadir secara utuh dalam kehidupan cucunya kelak. Ia ingin duduk di samping Sasa, mendengarkan cerita menantunya mengenai perkembangan kehamilan dari bulan ke bulan, ikut sibuk memilihkan pakaian bayi yang paling lembut, merayakan setiap momen kehamilan pertama itu, dan melihat dengan matanya sendiri bagaimana Javendra bertransformasi menjadi seorang ayah yang penyayang. Amara merasa tidak boleh dan tidak ingin kehilangan momen-momen berharga itu sedikit pun, terutama setelah bertahun-tahun lamanya hubungan antara dirinya dan Javendra sempat hancur berkeping-keping akibat kesalahan masa lalunya sendiri.
Read more