FAZER LOGINSuasana ruangan masih terasa tegang.Nama itu—Dinda—seakan membawa sesuatu yang tidak terlihat… tapi terasa.Aira berdiri diam di antara kerumunan. Tatapannya tidak lepas dari wanita yang kini berdiri di samping Arka.Dinda.Cantik. Elegan. Percaya diri.Dan yang paling mencolok—Dia terlihat… terlalu nyaman berada di sisi Arka.Seolah itu adalah tempat yang sudah lama ia kenal.“Aku harap kerja sama ini berjalan lancar,” ucap Dinda dengan senyum tipis.Suaranya lembut.Namun entah kenapa… terasa tajam.Beberapa orang langsung menyambut dengan antusias. Jelas, Dinda bukan orang asing di dunia ini.Berbeda dengan Aira.Aira hanya bisa berdiri.Mengamati.Mencoba memahami situasi yang tiba-tiba berubah.“Rapat selesai.”Suara Arka memotong suasana.Semua orang mulai bubar perlahan.Namun Aira belum bergerak.Ia masih memperhatikan satu hal—Cara Arka menatap Dinda.Tidak dingin.Tidak seperti biasanya.Dan itu… cukup untuk membuat dadanya terasa tidak nyaman.⸻“Aira.”Suara itu membuat
Sejak kejadian di taman…Sesuatu berubah.Bukan hanya di diri Aira.Tapi juga… Arka.⸻Pagi itu, suasana meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya.Aira duduk tanpa banyak bicara. Fokus pada makanannya, tanpa sekalipun menatap ke arah Arka.Sementara itu—Arka memperhatikannya.Diam.Tapi jelas.“Aku akan mengantarmu hari ini.”Aira berhenti makan.Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Ke mana?”“Kantor.”Jawaban singkat.Aira mengerutkan kening. “Aku tidak bilang mau ke kantor.”“Kamu akan ke sana.”Nada itu—Bukan ajakan.Itu keputusan.Aira menarik napas pelan.“Aku punya urusan lain.”Arka menatapnya tajam. “Dengan siapa?”Pertanyaan itu membuat Aira langsung mengerti arah pembicaraan ini.“Tidak ada hubungannya dengan kamu,” jawabnya tenang.Sunyi.Beberapa detik berlalu.“Aira.”Nada suara Arka berubah.Lebih rendah.Lebih menekan.“Aku tidak suka kamu keluar tanpa aku tahu ke mana.”Aira tersenyum tipis.“Sejak kapan itu jadi aturan?” tanyanya.Arka tidak menjawab.Karena memang—
Aira tidak menyangka… ia bisa merasa setenang ini.Duduk di bangku taman, ditemani Raka, semuanya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.Raka tidak banyak bertanya.Tidak memaksa.Hanya menemani.Dan itu… cukup.“Kamu berubah,” ucap Raka pelan.Aira menoleh. “Berubah bagaimana?”Raka tersenyum tipis. “Kamu jadi lebih… diam.”Aira tertawa kecil. “Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi.”Raka mengangguk pelan, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan.“Kalau capek,” katanya, “kamu tidak harus menahan semuanya sendiri.”Kalimat itu sederhana.Tapi entah kenapa… terasa menenangkan.Aira menunduk sedikit. “Aku sudah terbiasa sendiri.”Raka tidak langsung menjawab.Namun tatapannya berubah… lebih dalam.“Sekarang kamu tidak sendiri,” ucapnya pelan.Deg.Jantung Aira berdetak sedikit lebih cepat.Suasana tiba-tiba terasa berbeda.Ia tidak sempat merespons—Karena suara lain tiba-tiba memotong.“Aira.”Satu kata.Datar. Dingin.Namun cukup untuk membuat tubuh Aira me
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.Aira masuk ke kamar tanpa menatap Arka sedikit pun. Langkahnya tenang, tapi jelas menjaga jarak.Tidak ada sapaan.Tidak ada pertanyaan.Seolah pria itu… tidak ada.Arka berdiri di dekat jendela, memperhatikan setiap gerakan Aira.Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya, Aira akan mencoba bicara.Mencairkan suasana.Atau setidaknya… melihat ke arahnya.Tapi sekarang—Tidak.“Aira.”Tidak ada jawaban.Aira hanya berjalan ke lemari, mengambil pakaiannya, lalu masuk ke kamar mandi.Seolah tidak mendengar.Rahang Arka mengeras.Ia tidak terbiasa diabaikan.Beberapa menit kemudian, Aira keluar.Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tenang… terlalu tenang.Ia berjalan ke sisi tempat tidur, lalu berbaring.Membelakangi Arka.Tanpa sepatah kata pun.Sunyi.Dan kali ini… sunyi itu terasa berbeda.Lebih berat.“Apa maksudmu dengan sikap ini?” tanya Arka akhirnya.Nada suaranya rendah.Aira membuka matanya, tapi tidak berbalik.“Aku hanya melakukan apa y
Aira tidak langsung pulang.Ia duduk di salah satu kursi kosong di koridor, menunduk, mencoba menenangkan dirinya. Air matanya sudah berhenti, tapi rasa sesak di dadanya… belum hilang.Kalimat Arka terus terngiang di kepalanya.“Jangan berpikir kalau kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”Aira tersenyum pahit.Ia hanya ingin membantu.Hanya itu.Namun yang ia dapatkan… justru penghinaan di depan semua orang.Dan yang lebih menyakitkan—Itu datang dari suaminya sendiri.⸻Beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka.Orang-orang keluar satu per satu, membicarakan hal lain seolah tidak terjadi apa-apa.Aira tidak bergerak.Ia hanya diam.Sampai akhirnya—Langkah yang ia kenal berhenti di depannya.Arka.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya.Nada suaranya tidak lagi setajam tadi… tapi tetap dingin.Aira tidak langsung menjawab.Ia mengangkat wajahnya perlahan.Matanya sedikit merah.“Aku menunggu… apakah kamu akan menjelaskan sesuatu,” ucapnya pelan.Arka mengernyit. “Menjela
BAB 8 — Permainan KotorPagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Aira berdiri di depan cermin, merapikan penampilannya. Ia mengenakan pakaian sederhana—tidak semewah yang biasa dipakai wanita di lingkungan Arka, tapi cukup rapi.Hari ini ia tidak ke kantor.Setidaknya… itu rencananya.Namun entah kenapa, pikirannya tidak tenang.Bayangan kemarin terus muncul di kepalanya—tatapan orang-orang, hinaan halus, dan sikap dingin Arka.Ia menggigit bibirnya pelan.“Aku tidak bisa terus seperti ini,” bisiknya.Aira meraih tasnya.Ia harus mencoba.⸻Satu jam kemudian, Aira sudah berdiri di depan gedung perusahaan yang sama.Jantungnya berdegup cepat.Namun kali ini… ia tidak akan mundur.Ia masuk ke dalam dengan langkah lebih mantap.Tatapan orang-orang masih sama.Tapi Aira berusaha mengabaikannya.Ia langsung menuju lift, lalu naik ke lantai atas.Begitu pintu terbuka—“Wah… kamu datang lagi?”Suara itu langsung menyambutnya.Livia.Wanita itu berdiri di dekat meja resepsionis, dengan seny







