"Satrio, energimu semakin besar, namun hatimu semakin dingin. Kamu mulai memperlakukan wanita bumi seperti mainan," tegur Putih lembut di atas ranjang. Suaranya tidak meledak-ledak penuh kemarahan, melainkan berbisik halus, bergetar langsung di dalam gendang telinga dan lubuk jiwa Satrio. Satrio terdiam. Ia tidak mampu menyangkal kata-kata itu. Bayangan wajah Adirah yang menangis ketakutan, Maya yang tersenung licik setelah menghancurkan Dokter Manda, serta Selina yang memohon kepastian dengan mata berkaca-kaca, melintas bergantian di benaknya. Satrio tahu, ia telah menggunakan ketampanan, karisma, dan kekuatannya untuk memanipulasi perasaan mereka demi memuluskan ambisi bisnisnya. Hatinya yang dulu tulus kini perlahan-lahan membeku menjadi sedingin es, tertutup oleh lapisan keserakahan kekuasaan. "Aku..." Satrio menggantung kalimatnya. Ia mengembuskan napas berat, merasakan dadanya begitu sesak. "Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang bisa menginjak-injakku lagi, Putih. Dunia in
Ler mais