Siang itu, terik matahari ibu kota menyengat pelataran rumah mewah baru Satrio. Raungan mesin mobil sport merah miliknya perlahan meredup, menyisakan keheningan di pekarangan luas bergaya modern itu. Satrio mematikan mesin, lalu segera turun dari kursi kemudi. Dengan gerakan yang tenang, ia berjalan memutari kap mobil untuk membukakan pintu sebelah kiri.Dari dalam mobil mewah itu, melangkah keluar seorang gadis dengan pakaian sederhana namun rapi. Dia adalah Ningrum. Gadis itu tampak menatap bangunan megah berlantai dua di hadapannya dengan gugup. Jemarinya saling meremas satu sama lain, tampak sangat segan untuk melangkah lebih jauh."Ayo masuk, Ningrum. Jangan takut, ada Ibu dan Bapak di dalam," ajak Satrio sembari tersenyum menenangkan, memberikan isyarat lewat gerak tangannya agar Ningrum mengikutinya.Ningrum mengangguk pelan, melangkah dengan sangat hati-hati mengekor di belakang Satrio. Begitu pintu jati besar itu terbuka, Mbok Sumini, ibu Satrio, dan Pak Sukirman, ayah Satrio
Mehr lesen