Pagi datang tanpa suara.Cahaya pertama menyusup melalui celah tirai, jatuh membelai seprai sutra yang berkerut seperti permukaan danau setelah hujan. Debu menari di sorotan matahari, berputar pelan dalam ruangan yang masih menyimpan aroma hangat dari malam sebelumnya. Laticia membuka matanya perlahan.Yang pertama ia rasakan adalah hangat. Sebuah lengan melingkar di tubuhnya, kokoh dan protektif, seperti pelindung yang tak pernah tidur bahkan dalam mimpi. Ia mengenalinya tanpa perlu melihat, dari kehangatan yang menjalar di kulitnya, dari aroma maskulin yang sudah terlalu familiar di setiap tarikan napasnya.Dan yang kedua, yang membuat sudut bibirnya terangkat dalam senyum yang tak bisa ia tahan, adalah posisi tangan Lereg yang bersemayam tepat di dadanya. Di atas detak jantungnya. Seolah semalam ia jatuh tidur sambil mendengarkan bunyi kehidupan perempuan ini, dan tak ingin melepaskannya.Laticia membiarkan sejenak.Ia memandangi langit-langit kamar, mengikuti ukiran kayu yang be
Read more