Pagi itu terasa jauh lebih menenangkan bagi Laticia. Sinar matahari yang hangat menyelinap melalui celah tirai, menyelimuti kamar dengan cahaya keemasan yang lembut. Untuk beberapa saat, ia hanya memejamkan mata, menikmati keheningan yang sudah lama tidak ia rasakan.Ketika perlahan membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Lereg. Lelaki itu masih berada begitu dekat dengannya. Napasnya teratur, sementara salah satu lengannya masih melingkar santai di pinggang Laticia, seolah tidak ingin melepaskannya terlalu cepat.Sudut bibir Laticia terangkat membentuk senyum kecil. Malam tadi meninggalkan kehangatan yang belum sepenuhnya hilang. Untuk sesaat, ia benar-benar merasa bebas. Bebas dari gelar yang harus dipertahankan, dari intrik yang tiada henti, dan dari sangkar emas bernama istana yang selama ini mengekangnya.Selama berada di sisi Lereg semua itu terasa begitu jauh. Tak lama kemudian, bulu mata Lereg bergerak pelan sebelum akhirnya ia membuka mata. Tatapan birunya l
Read more