Bercerai Dari Kaisar!

Bercerai Dari Kaisar!

last updateLast Updated : 2026-05-04
By:  LalapooOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku mati di penggal setelah menerima tuduhan pengkhianatan yang dijatuhkan oleh suamiku sendiri, sang kaisar. Namun ketika takdir memberiku kesempatan hidup kembali, aku bersumpah akan meninggalkannya, sayangnya, kali ini justru dia yang menolak melepaskanku.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Aku setuju bercerai.”

Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.

Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Kaisar Carsein Rass de Ascham.

Carsein menatapnya balik, tajam, dingin, seolah berusaha menembus isi kepalanya.

“Setan apa yang merasukimu kali ini, Ratu?” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun sarat ejekan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

Laticia tidak goyah. “Saya serius, Yang Mulia.”

Jawabannya tenang, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin menegang.

“Sungguh?” Carsein terkekeh pelan, lalu tiba-tiba suaranya meninggi. “Sudah kuduga!”

Para pelayan refleks mundur beberapa langkah. Tak seorang pun berani menatap langsung ke arah mereka.

Carsein menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya dengan sorot penuh kecurigaan.

“Kau pikir aku akan langsung percaya setelah kau menolak perceraian itu sebanyak sembilan belas kali?” Angka itu menggantung di udara seperti tuduhan yang tak terbantahkan.

Laticia menunduk.

Sembilan belas kali Carsein mengajukan perceraian, dan sembilan belas kali pula Laticia menolaknya dengan menggunakan haknya sebagai ratu untuk mempertahankan pernikahan dan keutuhan tahta.

Ia bertahan karena cinta, dan karena konsekuensi perceraian yang mengerikan. Jika bercerai, Laticia tidak hanya kehilangan tahtanya sebagai ratu, tetapi juga bisa diasingkan, bahkan dilelang seperti barang tak berharga.

Ia tetap bertahan meskipun tahu Carsein memiliki wanita lain di belakangnya. Ia menutup mata, menutup telinga, meyakinkan dirinya bahwa selama ia tetap menjadi ratu, selama ia tetap berada di sisi lelaki itu, semuanya masih bisa diperbaiki.

Namun kali ini berbeda sebab wanita itu sedang mengandung anak Carsein, Laticia merasa posisinya benar-benar terancam.

Setelah penolakan terakhirnya, Carsein tidak lagi bersembunyi. Ia membawa wanita simpanannya ke istana. Seorang wanita yang bahkan tengah mengandung anaknya.

Sejak saat itu, pernikahan mereka yang sebelumnya hanya dipenuhi kepura-puraan berubah menjadi neraka yang nyata.

“Kita bercerai saja, saya lelah.” Kali ini, suaranya lebih pelan. Namun justru karena itu, kalimat itu terasa jauh lebih berat.

Laticia menahan napas sejenak sebab ia benar-benar lelah.

Bukan hanya sekali atau dua kali ia dihina. Carsein merendahkannya di hadapan para bangsawan, di depan seluruh kekaisaran. Ia datang ke setiap acara resmi dengan wanita itu, menggandengnya dengan bangga, seolah Laticia tidak pernah ada.

Seolah ratu kekaisaran hanyalah bayangan yang tak berarti.

Harga dirinya hancur bukan hanya sebagai seorang ratu, tetapi juga sebagai seorang istri. Sebagai nyonya istana, ia seharusnya dihormati, dijunjung tinggi. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan meremehkan dan bisikan penuh kasihan.

Balum lagi Carsein tidak segan menuduh atau menghukumnya, mencampakkannya dan lebih parah lagi merendahkannya seolah ia hanyalah wanita murahan dan bukan seorang Ratu.

Carsein terkekeh ringan. “Jadi begitu?”

Laticia menghela napas kasar. Ia tidak ingin membahas ini. Tidak sekarang dan tidak di hadapan semua orang.

Namun Carsein tidak berniat berhenti.

“Setelah duke dan duchess mati, akhirnya kau menyerah juga, ya?”

Laticia menatapnya.

Ia masih mengenakan gaun berkabung hitam pekat, tanpa satu pun hiasan. Kematian ayah dan ibunya masih terasa seperti luka yang menganga.

Dan lelaki yang duduk di hadapannya itu adalah tersangka utama di balik semuanya. Carsein melakukan itu hanya karena ia menolak bercerai.

Bukan hanya merenggut nyawa kedua orang tuanya, Carsein juga menghancurkan keluarganya, membuat nama Valcren dijauhi, ditinggalkan, seolah mereka adalah kutukan.

“Jangan pikir aku akan setuju kali ini,” kata Carsein dingin.

Laticia tidak segera menjawab.

Ia hanya menatapnya, lama seolah untuk terakhir kalinya melihat lelaki yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati.

“Kau yang memilih semua ini terjadi, Laticia Valcren!”

“Saya rasa saya tidak salah.”

Suara Laticia terdengar tenang, akan tetapi justru karena itulah, kalimat itu terasa jauh lebih tegas, seolah ia telah menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya.

Carsein menyeringai.

“Tidak salah?” Balasannya ringan, namun mengandung tekanan yang cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

Laticia tidak menanggapi.

Carsein sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit menatap wanita di hadapannya.

“Kesombonganmu itulah yang menghancurkanmu!”

Tatapan Laticia terangkat perlahan.

“Saya hanya mempertahankan hak saya, Yang Mulia.” Jawabannya tetap sama, tanpa emosi berlebihan dan tanpa penyesalan.

Namun justru itulah yang membuat ekspresi Carsein mengeras.

Ia tertawa pendek, kering, tanpa sedikit pun kehangatan.

“Hak?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Aku sudah membayar harga dari apa yang kau dan orang tuamu berikan, Laticia. Jangan serakah.”

Laticia tetap menatapnya.

Di dalam dirinya, ingatan demi ingatan berkelebat tentang bagaimana keluarganya mempertaruhkan segalanya demi lelaki ini. Tentang bagaimana mereka menentang arus, melawan kehendak istana, hanya untuk memastikan Carsein duduk di atas tahta padahal ia bukan pilihan yang ditetapkan.

Dan inilah balasannya. Pengkhianatan dan penghinaan yang terus berulang.

Srak—

Suara kursi berderit kasar memecah keheningan.

Carsein berdiri.

Bayangannya jatuh panjang, menutupi sosok Laticia yang masih duduk dengan anggun di kursinya.

Berbeda dari biasanya, Laticia tidak mengenakan perhiasan mewah ataupun riasan mencolok. Gaun yang ia kenakan sederhana, tanpa kilau kebesaran seorang ratu.

Carsein menatapnya dari atas, sorot matanya tajam dan penuh keputusan.

“Baiklah,” ucapnya pelan, namun sarat ancaman. “Seperti yang kau inginkan, Laticia.”

Laticia tidak bergerak.

“Seumur hidupmu,” lanjut Carsein, setiap katanya ditekan dengan jelas, “kau akan tahu seperti apa neraka dalam pernikahanmu sendiri.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status