MasukLaticia Valcrren akhirnya setuju bercerai setelah kedua orang tuanya mati dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan. Namun lelaki yang menghancurkan hidupnya—suaminya sendiri, sang kaisar—menolak melepaskannya. Tidak lagi memiliki cinta yang tersisa, Laticia bersumpah akan menghancurkan pria itu, bahkan jika ia harus menyeret seluruh kekaisaran jatuh bersamanya.
Lihat lebih banyakPagi itu, cahaya musim dingin masuk samar melalui jendela-jendela tinggi kamar Laticia, memantulkan warna pucat ke lantai batu yang tertutup karpet tebal. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia duduk di depan meja rias sementara Ema dan Melisa merapikan mantel bulu yang akan ia kenakan. Udara di dalam kamar hangat berkat perapian yang terus menyala, tetapi pikirannya masih belum sepenuhnya tenang sejak malam sebelumnya.Baru saja Ema selesai menyisir rambutnya, pintu kamar terbuka tanpa banyak aba-aba.Carsein masuk. Langkahnya cepat, membuat Ema, Melisa, dan para pelayan lain saling berpandangan sebelum akhirnya membungkuk dan keluar meninggalkan ruangan, memberi ruang bagi keduanya.Laticia menoleh pelan, sedikit mengernyit melihat kedatangannya yang tiba-tiba.“Apa terjadi sesuatu,” tanyanya tenang, “sampai kau masuk ke kamarku pagi-pagi seperti ini?”Carsein berjalan mendekat, berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding kemarin, seolah sema
Pintu ruang makan terbuka lebih dulu dan Carsein keluar dengan langkah panjang tanpa menoleh ke belakang. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat, jelas masih menyimpan amarah dari percakapan barusan. Jubahnya berkibar saat ia berjalan melewati lorong batu yang diterangi obor, dan tak sekali pun ia menyadari sosok yang berdiri diam di balik salah satu pilar besar.Laticia hanya memperhatikannya pergi tanpa suara. Ia sudah mendengar semuanya, setiap kata dan setiap nada dingin yang saling dilemparkan di antara dua saudara itu.Tak lama setelah Carsein menghilang di ujung lorong, Lereg keluar menyusul. Langkahnya lebih tenang, nyaris tanpa suara. Namun begitu matanya menangkap sosok Laticia yang berdiri di sana, langkahnya langsung terhenti.Tatapan mereka bertemu. Ada jeda singkat sebelum Lereg berjalan mendekat.“Sejak kapan kau di sini?” Suaranya rendah, datar seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya.Laticia menyandarkan bahunya pada pilar batu dingin di belak
Carsein akhirnya menarik napas panjang sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya masih tertuju pada Lereg, tajam dan penuh perhitungan, seolah sedang menimbang setiap kemungkinan yang baru saja dibuka di hadapannya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara, nadanya datar namun jelas mengandung keputusan yang belum benar-benar bulat.“Aku akan mempertimbangkannya.”Jawaban itu cukup membuat Lereg menundukkan kepala sedikit.“Terima kasih, Yang Mulia.”Laticia yang sejak tadi hanya memperhatikan percakapan itu dalam diam perlahan menghela napas. Entah kenapa suasana di meja itu terasa semakin berat baginya. Ia tak ingin berlama-lama di sana, terutama dengan tatapan dua pria yang terus bergerak saling membaca maksud satu sama lain.Ia meletakkan serbet di samping piringnya dan berdiri dengan tenang. “Aku sudah selesai. Kalau boleh, aku ingin kembali lebih dulu untuk membersihkan diri.”Carsein langsung mengangkat wajahnya menatap Laticia. Sorot matanya melembut sesaat, j
Carsein tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, tetapi pikirannya bergerak jauh lebih cepat. Ia tahu Laticia tidak berbohong, dan untuk pertama kalinya ia menyadari betapa banyak hal yang selama ini dibiarkannya jatuh ke tangan wanita itu.Lereg memotong keheningan dengan nada datarnya. “Utara tidak akan bertahan sejauh ini tanpa bantuannya.”Kalimat itu membuat tangan Carsein berhenti di atas meja. Ia tidak menyukai kenyataan itu, bukan karena itu salah, tetapi karena itu benar. Ruangan kembali hening beberapa saat sampai akhirnya Carsein menghela napas pelan, seolah mengingat sesuatu yang jauh lebih penting.“Ada satu hal lagi.”Kali ini nada suaranya berubah. Lebih berat. Laticia langsung mengangkat kepalanya, begitu pula Lereg.Carsein menyatukan kedua tangannya di atas meja, matanya lurus menatap Laticia. “Tentang penyerangan itu.”Laticia mengernyit tipis.“Thorne sudah melaporkan semuanya padaku,” lanjut Carsein. “Dan setelah memeriksa rute perjalanan, aku menemukan sesuatu.”
Melisa menunduk dalam, memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar percakapan biasa.“Baik, Yang Mulia.”Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Laticia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Gaunnya bergesekan pelan di atas lantai marmer, langkahnya terdengar mantap meski tubuhnya belum sepenuhnya puli
Sejak pagi buta, seluruh istana sudah dipenuhi suasana muram.Kabar mengenai keguguran sang ratu menyebar lebih cepat daripada angin yang melewati lorong-lorong panjang istana. Dalam hitungan jam, hampir seluruh bangsawan di ibu kota telah mendengarnya.Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sebe
Kesadaran Laticia kembali perlahan, seolah dirinya sedang ditarik keluar dari kegelapan yang panjang dan berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah dingin. Dingin yang aneh, merayap pelan dari ujung jemari sampai ke dadanya, meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.Kelopak matanya terbuka se
“Masuklah,” ucap Carsein akhirnya dengan nada datar.Tatapan matanya masih tertuju pada Laticia.“Aku tidak tahu kau sudah sampai.”Laticia tidak menjawab. Ia hanya melangkah masuk dengan tenang, sementara kedua pelayan di belakangnya buru-buru menutup pintu ruangan.Suasana di ruang makan pribadi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak