LOGINLaticia Valcrren akhirnya setuju bercerai setelah kedua orang tuanya mati dieksekusi karena tuduhan pengkhianatan. Namun lelaki yang menghancurkan hidupnya—suaminya sendiri, sang kaisar—menolak melepaskannya. Tidak lagi memiliki cinta yang tersisa, Laticia bersumpah akan menghancurkan pria itu, bahkan jika ia harus menyeret seluruh kekaisaran jatuh bersamanya.
View More“Aku setuju bercerai.”
Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.
Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Kaisar Carsein Rass de Ascham.
Carsein menatapnya balik, tajam, dingin, seolah berusaha menembus isi kepalanya.
“Setan apa yang merasukimu kali ini, Ratu?” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun sarat ejekan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
Laticia tidak goyah. “Saya serius, Yang Mulia.”
Jawabannya tenang, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin menegang.
“Sungguh?” Carsein terkekeh pelan, lalu tiba-tiba suaranya meninggi. “Sudah kuduga!”
Para pelayan refleks mundur beberapa langkah. Tak seorang pun berani menatap langsung ke arah mereka.
Carsein menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya dengan sorot penuh kecurigaan.
“Kau pikir aku akan langsung percaya setelah kau menolak perceraian itu sebanyak sembilan belas kali?” Angka itu menggantung di udara seperti tuduhan yang tak terbantahkan.
Laticia menunduk.
Sembilan belas kali Carsein mengajukan perceraian, dan sembilan belas kali pula Laticia menolaknya dengan menggunakan haknya sebagai ratu untuk mempertahankan pernikahan dan keutuhan tahta.
Ia bertahan karena cinta, dan karena konsekuensi perceraian yang mengerikan. Jika bercerai, Laticia tidak hanya kehilangan tahtanya sebagai ratu, tetapi juga bisa diasingkan, bahkan dilelang seperti barang tak berharga.
Ia tetap bertahan meskipun tahu Carsein memiliki wanita lain di belakangnya. Ia menutup mata, menutup telinga, meyakinkan dirinya bahwa selama ia tetap menjadi ratu, selama ia tetap berada di sisi lelaki itu, semuanya masih bisa diperbaiki.
Namun kali ini berbeda sebab wanita itu sedang mengandung anak Carsein, Laticia merasa posisinya benar-benar terancam.
Setelah penolakan terakhirnya, Carsein tidak lagi bersembunyi. Ia membawa wanita simpanannya ke istana. Seorang wanita yang bahkan tengah mengandung anaknya.
Sejak saat itu, pernikahan mereka yang sebelumnya hanya dipenuhi kepura-puraan berubah menjadi neraka yang nyata.
“Kita bercerai saja, saya lelah.” Kali ini, suaranya lebih pelan. Namun justru karena itu, kalimat itu terasa jauh lebih berat.
Laticia menahan napas sejenak sebab ia benar-benar lelah.
Bukan hanya sekali atau dua kali ia dihina. Carsein merendahkannya di hadapan para bangsawan, di depan seluruh kekaisaran. Ia datang ke setiap acara resmi dengan wanita itu, menggandengnya dengan bangga, seolah Laticia tidak pernah ada.
Seolah ratu kekaisaran hanyalah bayangan yang tak berarti.
Harga dirinya hancur bukan hanya sebagai seorang ratu, tetapi juga sebagai seorang istri. Sebagai nyonya istana, ia seharusnya dihormati, dijunjung tinggi. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan meremehkan dan bisikan penuh kasihan.
Balum lagi Carsein tidak segan menuduh atau menghukumnya, mencampakkannya dan lebih parah lagi merendahkannya seolah ia hanyalah wanita murahan dan bukan seorang Ratu.
Carsein terkekeh ringan. “Jadi begitu?”
Laticia menghela napas kasar. Ia tidak ingin membahas ini. Tidak sekarang dan tidak di hadapan semua orang.
Namun Carsein tidak berniat berhenti.
“Setelah duke dan duchess mati, akhirnya kau menyerah juga, ya?”
Laticia menatapnya.
Ia masih mengenakan gaun berkabung hitam pekat, tanpa satu pun hiasan. Kematian ayah dan ibunya masih terasa seperti luka yang menganga.
Dan lelaki yang duduk di hadapannya itu adalah tersangka utama di balik semuanya. Carsein melakukan itu hanya karena ia menolak bercerai.
Bukan hanya merenggut nyawa kedua orang tuanya, Carsein juga menghancurkan keluarganya, membuat nama Valcren dijauhi, ditinggalkan, seolah mereka adalah kutukan.
“Jangan pikir aku akan setuju kali ini,” kata Carsein dingin.
Laticia tidak segera menjawab.
Ia hanya menatapnya, lama seolah untuk terakhir kalinya melihat lelaki yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati.
“Kau yang memilih semua ini terjadi, Laticia Valcren!”
“Saya rasa saya tidak salah.”
Suara Laticia terdengar tenang, akan tetapi justru karena itulah, kalimat itu terasa jauh lebih tegas, seolah ia telah menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya.
Carsein menyeringai.
“Tidak salah?” Balasannya ringan, namun mengandung tekanan yang cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.
Laticia tidak menanggapi.
Carsein sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit menatap wanita di hadapannya.
“Kesombonganmu itulah yang menghancurkanmu!”
Tatapan Laticia terangkat perlahan.
“Saya hanya mempertahankan hak saya, Yang Mulia.” Jawabannya tetap sama, tanpa emosi berlebihan dan tanpa penyesalan.
Namun justru itulah yang membuat ekspresi Carsein mengeras.
Ia tertawa pendek, kering, tanpa sedikit pun kehangatan.
“Hak?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Aku sudah membayar harga dari apa yang kau dan orang tuamu berikan, Laticia. Jangan serakah.”
Laticia tetap menatapnya.
Di dalam dirinya, ingatan demi ingatan berkelebat tentang bagaimana keluarganya mempertaruhkan segalanya demi lelaki ini. Tentang bagaimana mereka menentang arus, melawan kehendak istana, hanya untuk memastikan Carsein duduk di atas tahta padahal ia bukan pilihan yang ditetapkan.
Dan inilah balasannya. Pengkhianatan dan penghinaan yang terus berulang.
Srak—
Suara kursi berderit kasar memecah keheningan.
Carsein berdiri.
Bayangannya jatuh panjang, menutupi sosok Laticia yang masih duduk dengan anggun di kursinya.
Berbeda dari biasanya, Laticia tidak mengenakan perhiasan mewah ataupun riasan mencolok. Gaun yang ia kenakan sederhana, tanpa kilau kebesaran seorang ratu.
Carsein menatapnya dari atas, sorot matanya tajam dan penuh keputusan.
“Baiklah,” ucapnya pelan, namun sarat ancaman. “Seperti yang kau inginkan, Laticia.”
Laticia tidak bergerak.
“Seumur hidupmu,” lanjut Carsein, setiap katanya ditekan dengan jelas, “kau akan tahu seperti apa neraka dalam pernikahanmu sendiri.”
Pagi itu, cahaya musim dingin masuk samar melalui jendela-jendela tinggi kamar Laticia, memantulkan warna pucat ke lantai batu yang tertutup karpet tebal. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia duduk di depan meja rias sementara Ema dan Melisa merapikan mantel bulu yang akan ia kenakan. Udara di dalam kamar hangat berkat perapian yang terus menyala, tetapi pikirannya masih belum sepenuhnya tenang sejak malam sebelumnya.Baru saja Ema selesai menyisir rambutnya, pintu kamar terbuka tanpa banyak aba-aba.Carsein masuk. Langkahnya cepat, membuat Ema, Melisa, dan para pelayan lain saling berpandangan sebelum akhirnya membungkuk dan keluar meninggalkan ruangan, memberi ruang bagi keduanya.Laticia menoleh pelan, sedikit mengernyit melihat kedatangannya yang tiba-tiba.“Apa terjadi sesuatu,” tanyanya tenang, “sampai kau masuk ke kamarku pagi-pagi seperti ini?”Carsein berjalan mendekat, berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding kemarin, seolah sema
Pintu ruang makan terbuka lebih dulu dan Carsein keluar dengan langkah panjang tanpa menoleh ke belakang. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat, jelas masih menyimpan amarah dari percakapan barusan. Jubahnya berkibar saat ia berjalan melewati lorong batu yang diterangi obor, dan tak sekali pun ia menyadari sosok yang berdiri diam di balik salah satu pilar besar.Laticia hanya memperhatikannya pergi tanpa suara. Ia sudah mendengar semuanya, setiap kata dan setiap nada dingin yang saling dilemparkan di antara dua saudara itu.Tak lama setelah Carsein menghilang di ujung lorong, Lereg keluar menyusul. Langkahnya lebih tenang, nyaris tanpa suara. Namun begitu matanya menangkap sosok Laticia yang berdiri di sana, langkahnya langsung terhenti.Tatapan mereka bertemu. Ada jeda singkat sebelum Lereg berjalan mendekat.“Sejak kapan kau di sini?” Suaranya rendah, datar seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya.Laticia menyandarkan bahunya pada pilar batu dingin di belak
Carsein akhirnya menarik napas panjang sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya masih tertuju pada Lereg, tajam dan penuh perhitungan, seolah sedang menimbang setiap kemungkinan yang baru saja dibuka di hadapannya. Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara, nadanya datar namun jelas mengandung keputusan yang belum benar-benar bulat.“Aku akan mempertimbangkannya.”Jawaban itu cukup membuat Lereg menundukkan kepala sedikit.“Terima kasih, Yang Mulia.”Laticia yang sejak tadi hanya memperhatikan percakapan itu dalam diam perlahan menghela napas. Entah kenapa suasana di meja itu terasa semakin berat baginya. Ia tak ingin berlama-lama di sana, terutama dengan tatapan dua pria yang terus bergerak saling membaca maksud satu sama lain.Ia meletakkan serbet di samping piringnya dan berdiri dengan tenang. “Aku sudah selesai. Kalau boleh, aku ingin kembali lebih dulu untuk membersihkan diri.”Carsein langsung mengangkat wajahnya menatap Laticia. Sorot matanya melembut sesaat, j
Carsein tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, tetapi pikirannya bergerak jauh lebih cepat. Ia tahu Laticia tidak berbohong, dan untuk pertama kalinya ia menyadari betapa banyak hal yang selama ini dibiarkannya jatuh ke tangan wanita itu.Lereg memotong keheningan dengan nada datarnya. “Utara tidak akan bertahan sejauh ini tanpa bantuannya.”Kalimat itu membuat tangan Carsein berhenti di atas meja. Ia tidak menyukai kenyataan itu, bukan karena itu salah, tetapi karena itu benar. Ruangan kembali hening beberapa saat sampai akhirnya Carsein menghela napas pelan, seolah mengingat sesuatu yang jauh lebih penting.“Ada satu hal lagi.”Kali ini nada suaranya berubah. Lebih berat. Laticia langsung mengangkat kepalanya, begitu pula Lereg.Carsein menyatukan kedua tangannya di atas meja, matanya lurus menatap Laticia. “Tentang penyerangan itu.”Laticia mengernyit tipis.“Thorne sudah melaporkan semuanya padaku,” lanjut Carsein. “Dan setelah memeriksa rute perjalanan, aku menemukan sesuatu.”
Laticia terdiam cukup lama setelah kotak kecil itu berada di tangannya. Suasana di depan aula pelelangan perlahan mulai sepi karena para bangsawan satu per satu sudah meninggalkan tempat tersebut dengan kereta mereka masing-masing. Namun perhatian Laticia sama sekali tidak tertuju pada semua itu.
Pelelangan akhirnya dimulai ketika suara palu pertama menggema di seluruh aula besar itu. Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan pada lantai marmer mengilap, sementara suara para bangsawan yang saling berbicara perlahan mereda untuk memperhatikan barang pe
Pelelangan bangsawan hari itu diadakan di aula utama distrik perdagangan kekaisaran, sebuah bangunan besar dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi lampu kristal dan dekorasi emas khas kaum aristokrat.Sejak siang tempat itu sudah dipenuhi para bangsawan dari berbagai wilayah. Suara percakapan pel
Pagi itu istana utama sudah dipenuhi kesibukan sejak matahari baru naik sepenuhnya. Para pelayan berlalu-lalang di sepanjang koridor membawa tumpukan dokumen, nampan teh, dan berbagai surat penting yang harus segera diselesaikan sebelum siang tiba.Di dalam ruang kerja ratu, suasana juga tidak jauh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore