"Strategi yang brilian, Willem! Mereka tidak akan bisa membungkam seluruh pers di Hindia Belanda jika Batavia sudah ikut bergolak," seru Hendrik.Ia menyeka keringat di dahinya. "Namun, semua bukti dokumen kolonial ini masih kekurangan satu hal utama, kesaksian hidup dari korban konspirasi itu sendiri."Hendrik menghentikan ketukannya, lalu beralih menatap Dyah yang berdiri membisu di bawah temaram lampu minyak. "Den Ayu Dyah, kami butuh suara Anda. Rasa sakit yang Anda pendam selama sepuluh tahun ini harus diubah menjadi tuntutan hukum tertulis yang sah. Apakah Anda siap menuntut Adipati Soerjo secara terbuka?"Dyah terdiam sejenak. Angin malam yang dingin menerbangkan ujung kain kebayanya yang basah. Rasa perih dan trauma penyekapan sepuluh tahun lalu sempat membuat jemarinya kaku, namun ketika ia melirik ke arah gudang logistik tempat sepuluh anak pantinya sedang mengungsi, tatapannya mendadak mengeras."Ambil kertas baru, Hendrik," ucap Dyah.Ia melangkah maju dan meletakkan
Ler mais