Adipati Soerjo berjalan di depan dengan wajah angkuh, langkahnya melambat, memberi jalan bagi sosok pria tua berambut putih klimis dengan setelan jas wol hitam yang kaku. Adriaan van Deventer melangkah masuk ke halaman panti. Willem seketika menegang, sejak kejadian kemarin, ia belum bertemu dengan ayahnya apa lagi berbicara dengannya. Ia refleks melangkah selangkah lebih maju guna memasang tubuhnya sebagai perisai di depan Dyah. Di balik lipatan kain kebaya cokelatnya, jemari Dyah yang dingin dan gemetar perlahan bertaut dengan jemari Willem. Willem meremas lembut tangan wanita itu dan menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki. "Luar biasa, Willem," suara Adriaan memecah keheningan. "Seorang arsitek lulusan Delft, mengotori tangannya di lumpur pinggiran kanal demi bangunan reyot ini?" "Tempat ini memiliki legalitas hukum yang sah, Ayah," balas Willem. Soerjo tertawa hambar, lalu melangkah maju sambil mengacungkan tongkat peraknya ke arah Dyah. "Legalitas apa, Wille
اقرأ المزيد