Saat itu langkah kaki terdengar dari arah depan. "Pagi…" Semua menoleh. Mirna muncul membawa kantong belanjaan di tangan kanan, pundaknya masih dibalut tas kain. "Eh, Mbak Mirna udah datang," sapa Diana ramah. "Sini, Mbak… sarapan bareng, masih anget ini." "Udah, Diana… tadi Mbak udah sarapan. Mau langsung beresin bahan di dapur," jawab Mirna ringan, senyumnya seperti biasa dibuat cerah dan tulus. Ia melangkah ke dapur, tak menyadari ada mata yang mengikutinya dengan sorot berbeda. Andri menatapnya dari ujung meja. Sekilas bibirnya menyungging senyum tipis. Mirna… batinnya. Kamu pintar sekali pura-pura. Diana berdiri dari kursinya. "Aku bantuin Mbak Mirna dulu, ya," ucapnya sambil berjalan ke dapur, menyusul Mirna.
Read more