"Ini bagaimana, Kung?" Kaisar bertanya setelah mengecek tubuh Luna yang sudah seputih kapas. "Mereka sepertinya mengalami kendala." Hadiwijaya membuka mata setelah sejak tadi bersemedi di sebelah Luna. Pria itu tampak komat kamit, merapal entah apa. Kemudian telapak tangannya menyentuh dahi Luna. Netra sang sultan kembali terpejam. Fokus pada jiwa Luna. "Kembali. Buka ikatannya. Aku perintahkan pada kalian. Akulah pemimpin kalian." "Kakung," panggilan Luna masuk ke rungu Hadiwijaya. Lelaki sepuh itu melihat Luna terikat. Sang cucu mantu berusaha melepaskan diri tapi tak bisa. "Sabar, Nduk. Alfa sedang mengusahakannya." "Kakung, kalau Luna tak bisa pulang." "Alfa akan memastikan kamu pulang. Kakung jamin itu." "Jadi bertahanlah sebentar lagi, ya?" Luna berkaca-kaca sebelum mengangguk. "Kita kehabisan waktu. Apa yang mereka lakukan. Ji, carikan aku daun kelor dari taman belakang." "Sendiko, Sinuwun." Aji, tangan kanan Hadiwijaya membungkuk sebelum menghilang di balik pintu
Ler mais