Namun Alfa merasa ada yang tidak beres dengan perkataan kakeknya. "Nan, memangnya apa yang terjadi?"Alfa bertanya melalui pikirannya. "Kami masih menyelidikinya, Gusti," balas Nan tak lama kemudian.Alfa coba menenangkan diri. Di depan ada ada Kirno yang duduk bersila. Bola matanya memandang ke satu titik. Menatap ke arah Alfa.Insting Alfa mengatakan Kirno atau siapapun itu tengah membidiknya."Kung, dia menginginkanku," bisik Alfa."Tidak heran. Darahmu masih jadi incaran. Keturunan pertama, laki-laki. Lahir tepat di bulan purnama bula Suro. Weton Seloso Kliwon.""Angker, Mas," seloroh Kaisar."Dan kau, kau kira kau tidak angker. Lahir pas gerhana matahari."Alfa ingin meledakkan tawa. "Ngatain orang, padahal dia sendiri sama wingitnya."Kaisar mencibir. "Tapi, Kung. Penjagaku mana, Mas Alfa sama Kakung punya. Aku?""Adalah, asal kamu panggil. Pasti datang.""Ciyus? Beneran?"Tingkah Kaisar sungguh seperti bocah. Dibandingkan dengan usia dewasa yang disandangnya."Makanya cobain.
Ler mais