Luna terbelalak ketika dua pria mendekat. Sosok yang tampilannya lebih menyerupai preman pasar. Kumal, dengan wajah menyeramkan. Kotor juga bau.Kontras dengan Luna yang rapi, wangi dan tentu saja cantik. "Jangan mendekat, atau kalian akan tahu akibatnya.""Ati-ati, bolo. Den Mas bilang dia bisa silat."Satu dari mereka mengingatkan. Yang lain justru menyeringai. Tampak menyukai apa yang dikatakan orang sebelumnya."Dia anak mana sih? Mulus bener.""Aslinya Den Mas karep, tapi dia kadung jengkel. Ya sudah dikasih ke kita. Rezeki to malahan."Percakapan itu lama kelamaan membuat Luna mual. Walau dia tidak bisa membalas, tapi dia paham apa yang para preman itu katakan. Bahwa mereka sengaja dimasukkan ke sini untuk membalas perbuatan Luna pada Muhtar."Kata Den Mas, dia itu murahan.""Gak heran. Cewek zaman sekarang, kalau cantik sama mulus begini pasti barang dagangan. Asal disawer pasti mau. Cepatlah, jangan banyak omong. Eksekusi sekarang. Tenang saja, tidak ada yang akan mengganggu."
Read more