"Luna!"Luna hampir terjengkang ketika Rina menubruknya guna memeluknya. "Sorry ya. Aku gak nemenin kamu pas di rumah sakit.""Enggak apa-apa. Habis kamu jenguk itu aku diperbolehkan pulang.""Aku tahu, Mbak Anggi kasih tahu aku.""Aku memang pesan sama Mbak Anggi, aku mau istirahat. Gak mau diganggu.""Kamu marah sama aku?""Enggak, kan kita sama-sama korban. Pusing ya?"Luna mengangguk. Bukan pusing karena peristiwa kemarin. Tapi puyeng karena sang mama mengirim draft rancangan kebaya pengantin tadi malam.Aslinya kebaya itu Luna banget. Tapi berhubung dia sama sekali tidak niat dengan pernikahan ini. Rancangan itu justru seperti tali tak kasat mata yang mencekik lehernya.Tiap kali ingat akan hal itu, Luna sesak napas dibuatnya."Na, aneh gak sih?""Soal apa?""Itu." Rina menunjuk ke arah kiri dengan dagunya. Di mana sosok Rayden mendekat ke arahnya. Sebuket bunga ada di tangannya."Untukmu," kata pria itu tanpa ragu.Luna bergeming. Sekilas bertukar pandang dengan Rina."Maaf, k
Read more