Luna mengerutkan dahi mendengar ucapan Adrian. Benar, apa sebenarnya tujuan Alfa menikahinya. Sejak awal, pria itu memang tak pernah mengatakannya.Entah karena cinta, rasa bersalah, hubungan bisnis, aliansi atau sebab lain."Aku bisa memberitahu Kakak ipar, jika Kakak mau." Sudut bibir Adrian tertarik.Saat kebimbangan mendera Luna. Nyaris membawanya pada keputusan salah, suara lain lebih dulu menyelamatkannya."Adrian, apa yang kamu lakukan di sini?"Wajah Adrian berubah masam. Dia lantas mengukir senyum yang jelas dipaksa. "Hanya menyapa Kak Luna," balas Adrian malas."Pergilah, jangan sampai kamu membuat keributan," usir Kakek Wibisana yang mendadak muncul.Dengan wajah kesal Adrian berlalu pergi."Luna sudah sarapan? Tadi Alfa sengaja mengambil sendiri sarapan untukmu."Luna mengerjap, jadi makan paginya disiapkan oleh Alfa. Beruntung sekali dia."Sudah.""Kalau begitu temani Kakek."Tak berapa lama dua orang itu sudah duduk di sebuah balkon. Bukan vila, tapi hotel yang tidak jau
Read more