로그인Namun Alfa merasa ada yang tidak beres dengan perkataan kakeknya. "Nan, memangnya apa yang terjadi?"Alfa bertanya melalui pikirannya. "Kami masih menyelidikinya, Gusti," balas Nan tak lama kemudian.Alfa coba menenangkan diri. Di depan ada ada Kirno yang duduk bersila. Bola matanya memandang ke satu titik. Menatap ke arah Alfa.Insting Alfa mengatakan Kirno atau siapapun itu tengah membidiknya."Kung, dia menginginkanku," bisik Alfa."Tidak heran. Darahmu masih jadi incaran. Keturunan pertama, laki-laki. Lahir tepat di bulan purnama bula Suro. Weton Seloso Kliwon.""Angker, Mas," seloroh Kaisar."Dan kau, kau kira kau tidak angker. Lahir pas gerhana matahari."Alfa ingin meledakkan tawa. "Ngatain orang, padahal dia sendiri sama wingitnya."Kaisar mencibir. "Tapi, Kung. Penjagaku mana, Mas Alfa sama Kakung punya. Aku?""Adalah, asal kamu panggil. Pasti datang.""Ciyus? Beneran?"Tingkah Kaisar sungguh seperti bocah. Dibandingkan dengan usia dewasa yang disandangnya."Makanya cobain.
Siska terhuyung ke belakang. Nyaris ambruk jika tidak tertahan kursi. Fakta menyakitkan juga mengerikan menamparnya berulang kali.Kenyataan kalau Luna adalah istri Alfa membuat Siska kaget luar biasa. Pria di depannya tidak menyangkal ketika dia menyebut Luna istrinya. Artinya semua itu benar."Tidak! Itu tidak benar!""Perlu aku tunjukkan foto nikah mereka. Pingsan kau nanti!" Cibir Kaisar merasa iba sekaligus tidak habis pikir dengan kelakuan Siska.Ada wanita yang begitu terobsesi pada seorang pria. Tidak peduli jika statusnya adalah suami orang."Jadi mulai sekarang, jauhi Luna." Alfa memperingatkan."Dia tidak akan kapok, Mas. Matanya saja bilang, dia akan cari cara untuk melenyapkan Mbak Luna."Siska menggeram. Dia benci ketika Kaisar bisa membaca isi pikirannya."Ada saran?" Alfa bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari Siska."Tentu saja ada. Ingat kasus Rina. Kasih saja ke dia. Rina sudah pergi dan bertobat. Biarkan dia hidup tenang di kampung.""Tidak! Kau tidak bisa melak
"Dia di mana?"Seorang pria membuka jalan bagi Alfa. Pria itu sedang berada di sebuah klub malam. Bersama Kaisar, dia berniat menyelesaikan masalah tadi sampai akar.Seperti rencana mereka.Tak berapa lama, mereka diarahkan ke lantai tiga Di mana mereka bisa melihat sebagian besar aktivitas lantai di bawah mereka."Itu dia, Gusti." Kaisar dan Alfa memicingkan mata. Menembus kepulan asap dan remang lampu. Mencoba memindai target mereka."Kamu tidak mual?" Tanya Alfa seraya memindai mangsanya."Anggap saja alkohol rumah sakit.""Dokter sepertimu akan aneh berada di tempat ini.""Asal jangan bilang-bilang. Aman," cengir Kaisar dari balik masker.Alfa tersenyum tipis sebelum melangkah menuju sasaran mereka."Mas, kamu dulu sering ke tempat seperti ini. Bagaimana rasanya?" Kaisar mengekor bak anak ayam mengikuti induknya."B aja," balas Alfa santai."Ngapusi! B aja kok ketagihan. Sampai Mbak dulu benci setengah hidup.""Meneng! Diam. Mending kamu pikirkan cara supaya penyamaranmu tidak te
"Kami ada urusan sama kamu.""Urusan apa? Katakan siapa yang menyuruh kalian!"Luna maju tanpa takut. Walau dua orang di depannya berwajah sangar dengan tubuh tinggi besar. Dia sudah pulih total. Bisa menghajar sepuluh orang kalau ada."Banyak tanya! Ikut saja!"Luna mundur ketika satu orang coba menangkapnya. Aksi Luna tak ayal memancing kemarahan lawannya."Jangan melawan jika tidak ingin wajah cantikmu babak belur."Luna mendengkus. Wajahnya babak belur. Dua minggu lalu jiwanya yang babak belur. Sekarang cuma diancam pakai wajah. Luna jelas tidak takut sama sekali."Na, serius kamu bisa ngadepin mereka. Aku panggil bantuan ya.""Gak perlu, aku bisa hadapi mereka. Tenang saja.""Sialan! Banyak omong!"Vania melotot ketika dia didorong menepi. Detik setelahnya perkelahian seru pecah di tepi jalan. Sejumlah pejalan kaki seketika berhenti untuk menonton adegan yang biasanya cuma ada di drama.Luna dengan lihai membalas tiap serangan yang datang padanya. Kali ini Luna akan buktikan jik
“Luna, semakin hari dia semakin menjadi saja.”Kalimat itu terucap dari bibir Siska. Bersamaan dengaan asap rokok yang mengepul ke udara. Siska ingat bagaimana kesalnya dia saat melihat video Alfa menggendong Luna yang sedang pingsan."Nama itu terus yang sejak dulu kamu ributkan. Singkirkan saja."Siska menggeleng. "Kenapa?""Kevin bilang back up-nya Luna gak main-main."Lawan bicara Siska berteriak. “Lalu backup-mu apa kurang kuat?”Siska mengerjap. Dia seperti disadarkan oleh sesuatu. Sesuatu yang selama ini dia abaikan."Memangnya tidak masalah jika dia disingkirkan?""Yang jadi musuhmu. Adalah musuh kita juga. Aku akan membantu jika kamu setuju."Sudut bibir Siska tertarik. Dia sudah lama ingin sekali menyingkirkan Lana. Perempuan itu membuatnya muak sejak pertama kali mereka bertemu."Pastikan bersih, tanpa jejak.""Beres.""Dia cantik juga. Bolehlah kita main dulu sebelum dihabisi. Sayang sekali. Barang bagus kayaknya."Siska mencibir begitu dia mengirim foto Luna. Semua laki-
"Le, kamu percaya kalau karma itu nyata?"Alfa tercekat ketika Catur bertanya demikian."Paklek yakin jiwa papamu tidak pernah tenang selama ini. Dia mungkin sadar telah melakukan kesalahan. Tapi saat itu dia tidak bisa melawan.""Semua yang terjadi pada papamu di luar kendalinya. Bukannya paklek membela. Paklek hanya mengatakan keadaan papamu yang sebenarnya.""Jika ada yang harus disalahkan, dialah orangnya."Catur meraih ponselnya. Lantas mengirim beberapa foto ke nomor Alfa.Sosok yang seketika membeku waktu melihatnya. "Paklek sudah tahu lama?" Tangan Alfa terkepal. Jadi dugaannya benar. Kalau Ratrilah biang kerok hancurnya keluarganya."Sejak Tuan Besar masuk rumah sakit. Mas Djati langsung meminta paklek untuk menyelidiki wanita itu.""Sekarang Suhar sudah tidak punya kekuatan lagi. Atau bahkan sudah mati. Pengaruh pelet itu pasti akan segera memudar."Catur menjeda kalimatnya. "Bukannya mendoakan, tapi kita lihat saja apa yang akan terjadi pada wanita."Catur menepuk pelan bah
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al







