Ruanganku malam itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Bukan karena jumlah orang yang memenuhi ruangan, melainkan karena Raven duduk di tepi tempat tidurku dengan wajah penuh luka. Luka kecil di sudut bibirnya, lebam tipis di pipi, dan beberapa bagian wajahnya tampak memerah. Tanganku yang memegang kapas berhenti sesaat di depan bibirnya sebelum akhirnya menyentuh luka itu perlahan.“Jangan bergerak,” kataku pelan.Raven menatapku. “Aku nggak bergerak.”“Mulutmu bergerak.”“Itu namanya ngomong.”Aku menahan napas sebentar, lalu lanjut membersihkan darah di sudut bibirnya. Beberapa penghuni kos sudah berkumpul di sekitar pintu, sementara Nadia dan Selin berdiri tidak jauh dariku dengan tatapan yang sejak tadi sulit kuabaikan. Aku tahu mereka sedang memperhatikan sesuatu, tetapi aku memilih pura-pura tidak tahu.“Aww!” Raven tiba-tiba meringis ketika kapas menyentuh lukanya.Tanganku langsung berhenti. “Ya gimana dong? Namanya juga luka.”Raven mengangkat sudut bibirnya, meskipun g
اقرأ المزيد