Ayla melangkah gontai keluar dari ruang kerja sang kakek. Hatinya hancur setiap mendengar ibunya di hina untuk menjatuhkannya. Matanya tak sengaja melirik ke sudut lorong, darahnya kembali mendidih tapi dia tak bisa melawan. Zia berdiri bersandar di sana, menyunggingkan senyum jahat penuh kemenangan karena baru saja diselamatkan oleh sang ibu. Ayla membuang muka, mengabaikan saudara tirinya itu dan langsung menuju kamarnya. Tapi, baru saja Ayla menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Zia melangkah masuk dengan gaya santai dan angkuh, bibirnya menyeringai lebar seperti seorang pemenang. "Sudah aku bilang, kan? Kamu itu bukan lawanku, Ay," cibir Zia pongah, melipat kedua tangannya di dada. Mata Ayla memejamkan sesaat, ia menarik napas pelan, berusaha menahan emosi yang menguras energinya. "Aku tidak mau bicara denganmu. Silakan keluar dari kamarku," ujar Ayla malas. Zia justru tertawa kecil, melangkah semakin ke tengah ruangan. "Tidak ada
Last Updated : 2026-07-03 Read more