*Deggg...* Arkan menahan napas, matanya melotot menatap angka merah di panel detonator siber-gaib yang terus merosot di angka delapan puluh detik. Posisinya di dalam saluran ventilasi sempit itu benar-benar menyiksa, dengan tubuh sintal Aura yang menempel ketat di bawah dekapannya. "Waduh! Arkan, Om! Kenapa angka bomnya cepat banget sih turunnya?! Sialan beneran, kita bakal meledak jadi pakan tikus pabrik kalau gak cepat keluar!" pekik Aura panik setengah mati, wajah gemesnya memucat di kegelapan ventilasi. "Tenang sebentar, Nona Aura. Kalau Nona goyang terus, ventilasi ini bisa ambruk sebelum bomnya meledak," sahut Arkan lempeng, padahal batinnya sudah menjerit histeris. Aura tidak peduli, dia malah semakin mepet dan mendekap erat leher Arkan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang pengawal karena ketakutan bising. Kekuatan supranatural Napas Naga Fasa Final di tubuh Arkan mendadak bergejolak hebat, Qi emas murninya beraksi mel
Baca selengkapnya