Matahari baru saja naik, tapi keringat dingin sudah membasahi pelipis Arkan.Dia berdiri di koridor luar kamar Aura dengan ponsel yang menempel erat di telinga."Arkan, kamu harus dengerin Ibu baik-baik," suara ibunya di seberang sana terdengar sangat cemas."I-iya, Bu. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ibu tiba-tiba bicara soal leluhur?" tanya Arkan sambil melirik pintu kamar Aura yang masih tertutup.Suara helaan napas panjang terdengar dari telepon, membuat perasaan Arkan makin tidak enak."Kamu punya darah Kultivasi kuno, Nak. Itu warisan yang nggak bisa kamu tolak," ucap ibunya dengan nada berat.Arkan memijat pangkal hidungnya, merasa dunianya yang logis sebagai mantan prajurit elit mulai runtuh.'Kultivasi? Ibu kebanyakan nonton film silat apa gimana sih?' batinnya sambil menghela napas pendek."Masalahnya, energi Qi di tubuhmu itu kayak bendungan yang mau jebol. Kalau nggak disalurkan, kamu bisa mati muda," lanjut sang ibu.Arkan tersentak, rasa panas yang dia rasakan semalam di balk
Last Updated : 2026-05-07 Read more