Serangan itu datang bukan dari arah yang ia kira. Bukan tusukan yang bisa ia tepis, tapi ayunan rendah yang mengarah ke kakinya—gerakan yang hampir tidak pernah digunakan Benedict dalam latihan. Rosemary menghindar dengan instingnya, bukan teknik. Telapak kakinya tergelincir di lantai kayu. Ia berhasil menahan jatuh, tapi tidak berhasil menahan poin yang sudah dihitung sebelum ia sempat menegakkan tubuhnya. “Poin. Harrington.” Penonton bersorak. Di bangku penonton, Oliver mencengkeram lututnya sendiri. Alice mencondongkan tubuhnya ke depan, alisnya berkerut. “Apa yang terjadi?” bisik Oliver. “Kenapa dia tiba-tiba jadi cepat?” “Dia memang cepat,” kata Alice pelan. “Kau baru melihatnya sekarang.” Rosemary kembali ke posisi. Napasnya memburu. Lengannya sudah mulai terasa berat—sisa demam yang belum sepenuhnya pulih, latihan semalaman, dan sekarang ini. Tapi ia tidak akan menyerah. Tidak sekarang. Tidak setelah ia meminta ini. Bagus, pikirnya, menatap Benedict di seberang arena. Mas
Read more