Benedict masih memegang pergelangan tangan Rosemary. Tidak erat. Tidak memaksa. Hanya belum melepaskan. Rosemary menatap tangan itu. Jemari yang tadi pagi menggenggam pedang, yang menghentikan serangan satu sentimeter sebelum bahunya. Sekarang jemari itu hanya diam di sana, hangat, tidak bergerak. “Aku takut,” kata Rosemary. Itu keluar begitu saja. Tanpa rencana, tanpa pertahanan. Begitu kata-kata itu melayang di udara, ia langsung ingin menariknya kembali. Tapi sudah terlambat. Benedict menoleh, menatapnya dengan cara yang tidak memberinya pilihan selain melanjutkan. “Ayahmu,” lanjut Rosemary, suaranya lebih pelan sekarang. “Dia tahu sesuatu. Aku tidak tahu apa, tapi dari caranya tersenyum—” Ia berhenti. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Benedict tidak menjawab segera. Tangannya—yang masih memegang pergelangan Rosemary—sedikit mengencang. Bukan karena gugup. Tapi karena sesuatu yang lain. “Aku mengerti,” katanya akhirnya. Dan Rosemary tahu itu bukan sekadar ka
Last Updated : 2026-06-15 Read more