Rosemary menoleh. Tubuhnya menegang seketika, siap menghadapi siapa pun, asalkan bukan Vane, atau lebih buruk lagi, Benedict. Tapi yang berdiri di sana adalah Pangeran Henry. Ia muncul dari arah berlawanan, mungkin dari tangga yang menuju paviliun atau dari arah perpustakaan. Sebuah buku tua ada di tangannya, sampul kulitnya sudah mengelupas. Rambut keemasannya sedikit berantakan, seolah ia baru saja menyandarkan kepalanya pada sesuatu. Tapi senyumnya masih sama. Hangat dan tulus, seperti seseorang yang terlalu mudah untuk dipercaya. “Yang Mulia.” Suara rendah Rosemary nyaris tercekat. Ia buru-buru menunduk, lalu teringat dahinya yang berdarah. Tapi terlambat, Henry sudah melihatnya. “Aku mencari-carimu setelah latihan tadi.” Ia melangkah mendekat. “Tapi kau keburu pergi bersama Tuan Finch.” “Aku hanya perlu … udara segar.” Henry menatap dahinya. “Dan itu?” “Darah,” jawab Rosemary bodoh. “Ah, darah.” Henry tersenyum tipis. “Aku kira tadi saus tomat.” Rosemary hampi
Last Updated : 2026-05-08 Read more