"Naura—"Pukulan pertama mendarat di dadanya. "Kamu keterlaluan!"Pukulan kedua lebih keras. "Berani-beraninya kamu!"Pukulan ketiga, keempat, kelima, Naura terus memukul dada bidang Raka dengan sekuat tenaga. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca, tapi amarahnya terlalu besar untuk ditahan."Kamu udah ambil untung dari aku!"Namun sebelum pukulan keenam sempat mendarat, Raka bergerak cepat. Kedua tangannya menangkap pergelangan tangan Naura dengan kuat, membuat gadis itu terhenti. Tubuh Naura tertarik sedikit ke depan karena gerakan Raka yang tiba-tiba."Udah," suara Raka terdengar rendah dan berat. Matanya menatap Naura dengan tajam. "Cukup.""Apa yang cukup?! Aku nggak...""Kamu yang mulai duluan."Naura terdiam.Raka tidak melepaskan tangannya. "Kamu yang cium aku pertama kali di mobil. Kamu yang pegang bajuku. Kamu yang bilang 'aku mau' pas aku tanya kamu yakin atau nggak." Suaranya datar, tapi ada tekanan di setiap kata. "Jangan salahin aku sepenuhnya, Naura."Mata Naura membu
Read more