ログインSelesai makan, mereka kembali ke lantai delapan. Naura berjalan di samping Raka, masih dengan jaket pria itu melingkar di tubuhnya. Suasana di lift terasa hangat dan nyaman, sampai mereka melangkah keluar menuju ruang terbuka. Di sana, seorang karyawan laki-laki mungkin umur dua puluh lima tahun, dengan kemeja biru dan senyum ramah sedang berdiri di dekat mesin kopi. Begitu melihat Naura, matanya berhenti. Bukan lirikan biasa. Tatapan itu terlalu lama.Naura menangkap tatapan itu. Tanpa berpikir, ia tersenyum kecil ke arah pria itu. Hanya senyum sopan, tidak lebih. Tapi bagi Raka, Naura tidak seharusnya membalas senyuman pria yang tidak ia kenal.Seketika rahang Raka menegang. Matanya menyipit. Ia melangkah lebih cepat, hampir menarik Naura melewati ruang terbuka dengan langkah panjang."Raka, kenapa cepat-cepat?" tanya Naura bingung."Nggak kenapa-kenapa.""Nggak. Kamu jalannya cepet banget."Raka tidak menjawab. Ia membuka pintu ruangannya, masuk lebih dulu, lalu menunggu Naura. Be
Naura membeku, begitu juga dengan Raka.Kancing lengan kemeja Raka benar-benar tersangkut di rambut Naura, terjalin di antara helai-helai rambut panjang gadis itu. Keduanya terdiam, terkejut dengan situasi yang tiba-tiba terjadi.Raka mencoba menarik tangannya perlahan, tapi rambut Naura justru semakin kusut."Aduh!" Naura merintih pelan."Maaf, tunggu..." Raka berusaha melepaskan dengan hati-hati, tapi posisi mereka malah semakin tidak nyaman. Kini Raka harus membungkuk lebih dekat ke arah Naura, satu tangannya terangkat di dekat kepala gadis itu, sementara tubuhnya hampir menempel. Jarak mereka menjadi sangat dekat.Naura bisa merasakan napas Raka di wajahnya. Bisa melihat bulu matanya yang lebat. Bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang walaupun mungkin itu detak jantungnya sendiri."Naura... diam dulu," bisik Raka, suaranya serak."Aku diam," jawab Naura dengan suara hampir tak terdengar.Raka mencoba lagi melepaskan kancingnya dari rambut Naura. Jari-jarinya bergerak pe
Tiba di Kantor RakaGedung itu tidak terlalu besar, tapi terlihat modern dengan kaca-kaca gelap yang membentang dari lantai satu hingga delapan. Raka memarkir mobil di basement, lalu berjalan di samping Naura menuju lift.Naura diam-diam memperhatikan sekeliling. Semua tampak rapi dan bersih. Lantai marmer mengkilap, dinding putih dengan lukisan abstrak, dan meja resepsionis di lantai dasar yang dijaga oleh seorang wanita muda dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Pak Raka,” sapa resepsionis itu.“Pagi, Maya.” Raka mengangguk singkat. Lalu ia menoleh ke Naura. “Ini adik saya. Naura.”Naura tersenyum kaku. “Halo.”“Oh, selamat pagi, Mbak Naura.” Maya tersenyum ramah, tapi matanya sempat melirik sekilas, terlalu lama untuk sekadar lirikan biasa.Kenapa ya? pikir Naura. Tapi ia mengabaikannya.Lift membawa mereka ke lantai delapan. Begitu pintu lift terbuka, Naura disambut oleh ruang terbuka dengan beberapa meja kerja, komputer, dan karyawan yang mulai sibuk. Suasana kantor terasa santai t
Naura langsung membulatkan matanya.Wajahnya yang mulai reda kembali memerah dalam sekejap. Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Kata-kata Raka tadi menusuk tepat sasaran. Karena memang benar. Mereka sudah macam-macam. Bahkan lebih dari sekedar macam-macam.“Itu... itu beda!” jawab Naura akhirnya dengan suara meninggi.“Beda apa?”“Beda! Kalau dulu aku mabuk! Aku nggak sadar kalau kita...”“Iya iya... jadikan terus itu sebagai alasan. Nyatanya kamu begitu menikmati.""RAKA!" bentak Naura.Raka hanya cekikikan. Ia sangat suka menggoda Naura, terlebih saat wajah Naura kini terlihat memerah."Naura, coba lihat aku," pinta Raka.Naura yang masih memalingkan wajah dan menatap ke arah jendela, ia hanya diam. Ia benar-benar malu, apalagi jika ingatan malam itu terus diungkit. Naura tau jika malam itu, ia lah dalang dari semuanya, sampai akhirnya kesuciannya terenggut."Ayo lihat ke sini. Aku pengen lihat wajah kamu.""Enggak."Raka menghela napas. Dengan lembut ia meraih dagu
Raka tidak memberi Naura waktu untuk berpikir. Satu tangannya menarik dagu Naura dengan lembut tapi tegas. Lalu bibirnya mendarat di bibir Naura, bukan ciuman singkat seperti sebelumnya. Bukan pula ciuman penuh tanya. Ini adalah ciuman yang sudah lama tertahan. Ciuman yang tercipta dari rasa frustrasi, rindu, dan semua kata yang tidak bisa diucapkan.Naura membeku. Tangannya otomatis naik ke dada Raka, bukan untuk membalas, tapi untuk mendorong. Ia menekan dada bidang pria itu, berusaha menciptakan jarak."Raka.. mmph..."Tapi Raka tidak bergerak. Ia tetap di tempatnya, bibirnya tetap menempel di bibir Naura, tangannya tetap memegang dagu gadis itu dengan hati-hati. Bukan memaksa. Bukan menahan. Tapi juga tidak membiarkan Naura pergi begitu saja.Dorongan Naura semakin melemah.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Dan pada detik keempat, tangan yang tadinya mendorong berubah menjadi menggenggam. Naura menggenggam kemeja Raka. Bukan untuk mendorong lagi, tapi untuk menarik. Ia membalas c
Deg.Jantung Naura masih berdetak tidak beraturan setelah mendengar pengakuan Raka.Aku gagal melupakan kamu.Kalimat itu terus berputar di kepalanya bahkan ketika lampu lalu lintas sudah kembali hijau dan mobil kembali melaju. Naura memalingkan wajah ke arah jendela. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebagian dari dirinya ingin percaya. Sebagian lagi takut berharap. Karena berharap kepada Raka selalu berakhir menyakitkan.Beberapa menit berlalu. Naura mulai menyadari sesuatu, dan membuat alisnya berkerut."Ini bukan jalan ke kampus."Raka tidak menjawab. Tangannya tetap berada di setir, matanya fokus ke depan. Naura menoleh penuh curiga."Raka." Tidak ada jawaban."RAKA.""Hm?""Kamu dengar aku, kan?""Dengar.""Terus kenapa nggak jawab?""Karena aku lagi nyetir."Naura langsung mendelik. "Ini bukan jalan ke kampus.""Iya.""Iya? Udah tau kenapa masih dilanjutkan? Putar balik.""Kenapa harus putar balik?"Naura hampir ingin menjambak rambutnya sendiri. "Astaga... kenapa kita nggak ke
Bibir Naura hampir menyentuh pipi Raka. Satu senti lagi. Dua senti lagi. Naura bisa merasakan hangatnya kulit Raka. Bisa mencium wangi sabun yang melekat di tubuh pria itu. Jantungnya berdebar begitu kencang, hampir meledak di dadanya. Dan saat bibirnya hampir mendarat... Klik. Suara pintu ut
“RAKA!”Naura langsung berdiri. Namun Raka sudah lebih dulu menjauh satu langkah sambil memegang ponsel Naura.“Halo?” ucap Raka datar ke arah telepon.Di seberang sana terdengar suara kebingungan. Namun Raka jelas tau jika yang menelepon Naura adalah seorang pria.“Maaf, Naura sedang sibuk. Kalau
Raka menarik dagu Naura dengan lembut. Dan sebelum Naura sempat bertanya atau menarik napas, bibir Raka sudah menghantam bibirnya. Cup. Lembut. Singkat. Tapi cukup untuk membuat seluruh dunia Naura berhenti berputar. Matanya membelalak. Tubuhnya membeku. Foundation yang masih menempel di jari
"Naura! Sayang, sudah bangun?" Suara Mama Maya terdengar ceria dari lantai bawah. "Mama bawa sarapan! Ayo turun!"Naura menegang. Ia menatap kaca rias di seberang ranjang. Wajahnya masih pucat, rambutnya kusut tak karuan, dan bibir bawahnya hampir berdarah karena terus ia gigit."Sebentar, Ma!" bal







