Lalu, tiba-tiba sebuah seruan yang sarat akan ketidakpercayaan meledak di seberang sana."Sialan! Kau rupanya masih hidup, Arman?!"Arman tertawa kecil, ketegangan di wajahnya menyusut. "Kenapa? Kau kecewa?""Omong kosong! Aku hanya tidak menyangka kau masih ingat bagaimana caranya menggunakan telepon biasa," gerutu suara itu.Atmosfer di ruang kontrol yang sempat membeku seketika mencair. Jelas, hubungan keduanya bukan sekadar rekan kerja atau formalitas atasan-bawahan. Mereka adalah sepasang sahabat lama, dua serigala medan tempur yang pernah saling punggung dan menantang maut bersama di masa lalu.Setelah bertukar basa-basi singkat, ekspresi Arman berangsur kembali mengeras. Kedut di rahangnya menandakan dia siap masuk ke menu utama. "Bhayangkara, aku menghubungi karena ingin menanyakan sesuatu.""Apa?" nada bicara di seberang sana ikut memelan, mendeteksi perubahan intonasi Arman."Belakangan ini, ada desas-desus yang berembus di beberapa wilayah militer. Katanya, markas pusat sed
Read more