“Teh hangat untuk Nyonya?” tanya Pak Salman, yang mencegat jalan Susan. Susan terpaksa berhenti dan menahan keseimbangan nampan berisikan cangkir kosong, teko keramik berisikan teh hangat, dan roti gandum yang baru dibuatnya pagi ini. “Iya, Pak,” jawabnya hormat, meskipun kesal akan gerakan dadakan pria tua itu. Pak Salman mengernyitkan keningnya.“Ada lagi, Pak?” tanya Susan karena dilihatnya Pak Salman hanya diam, seperti sedang berpikir. Dia masih menunggu kelanjutan dari pertanyaan itu. Pria paruh baya itu menggeleng, lalu mundur selangkah, memberi ruang untuk Susan melewatinya. Susan pun melanjutkan jalannya dan menuju pintu samping. Sedangkan Pak Salman masih di tempatnya berdiri, menatap punggung Susan yang sudah berlalu. “Tumben Nyonya minum teh hangat di luar kamar lagi. Terakhir kali seingatku pas masih ada Ningsih, pelayan yang menemaninya ngobrol.” Pak Salman berpikir keras mengartikan perubahan sikap nyonya rumah ini. Sementara itu, Susan sudah sampai di taman. Dia
Baca selengkapnya