Angin laut menyisir lembut rambut yang terurai, namun tak mampu menyejukkan dada yang sesak. Di tepi tebing itu, air laut memantulkan cahaya matahari yang mulai turun, sama seperti hari-hari lalu. Dulu di sini tangis mereka pecah, membiarkan debu orang tua terbang bersama angin. Kini, yang tersisa hanyalah hening yang menyakitkan, dan tatapan yang tak benar-benar melihat ke lautan. “Jadi, mereka bakal ke sini?” tanya Selena pelan, suaranya hilang tertiup angin sejenak. Randy mengangguk pelan, matanya tidak beranjak dari gelombang yang bergulung. “Lebih tepatnya resor.”“Kamu mau ke sana? Menemuinya?” nada Selena mengandung tuduhan yang dibalut canda, meski ia sendiri tidak yakin sepenuhnya.Tangan Randy menepis lembut uluran tangan kakaknya di pergelangan tangannya. “Buat apa aku menemuinya?!” elaknya cepat, terlalu cepat, lalu melangkah pergi meninggalkan Selena yang menatap punggungnya dengan senyum tipis namun penuh curiga.“Tinggal bilang nggak aja pakai ngambek segala,” gumam
Leer más