Dokter!"Suara Mario menggema di lorong Instalasi Gawat Darurat.Brankar yang membawa Adji melaju cepat menembus pintu otomatis rumah sakit. Beberapa tenaga medis segera mengelilinginya."Pasien laki-laki, usia tiga puluh dua tahun. Luka tembak di bahu kiri, kehilangan banyak darah!""Tekanan darah turun!""Siapkan ruang operasi!"Kirana hanya mampu memandang dari kursi rodanya. Tangannya masih dipenuhi noda darah Adji.Darah itu mulai mengering di sela-sela jarinya, tetapi ia sama sekali tidak berniat membersihkannya.Baginya...Darah itu menjadi pengingat bahwa Adji benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Pintu ruang operasi tertutup. Lampu merah di atasnya menyala. Seolah menjadi garis pemisah antara harapan dan ketakutan.Kirana menundukkan kepala. Air matanya kembali jatuh, pikirannya kalut saat ini."Non..."Bi Ina yang baru tiba langsung memeluknya dari belakang.Begitu mendengar suara wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu, pertahanan Kirana runtuh.Ia
Read more