Mentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah sakit.Hujan yang semalaman mengguyur kota kini hanya menyisakan embun di dedaunan. Namun, bagi keluarga Pranawa, malam panjang itu seolah masih belum benar-benar berakhir.Di dalam ruang rawat intensif, Adji kembali terlelap setelah dokter memberikan obat penghilang nyeri. Kirana masih enggan melepaskan genggaman tangan suaminya.Jarinya mengusap pelan buku-buku jari Adjie yang dipenuhi bekas luka lama.Baru sekarang ia sadar bahwa tangan itu tidak hanya pernah bekerja keras mencari nafkah. Tapi, tangan itu juga pernah diborgol, dipukul bahkan pernah menahan dinginnya lantai penjara.Namun tangan yang sama ini tidak pernah sekalipun menyakitinya."Non."suara Mario terdengar dari balik pintu. Mengalihkan Kirana dari lamunannya."Pak Pandu ingin bertemu."Kirana mengangguk pelan, mendengar ucapan Mario. Sebelum pergi, ia membungkuk lebih dulu, mengecup lembut punggung tangan Adji."Aku menemui Ayah sebentar ya, aku janji nggak akan ningga
Read more