Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di halaman rumah keluarga Pranawa. Lampu-lampu taman yang biasanya memberi kesan hangat kini justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang terasa menyesakkan.Di balkon lantai dua, Adji masih berdiri memandangi langit. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Bayangan wajah Kirana yang pucat saat meneleponnya siang tadi terus berputar di kepalanya."Aku sedang diikuti..."Kalimat itu terus bergema.Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.Seumur hidupnya, ia tidak pernah takut menghadapi ancaman. Penjara, fitnah, penghinaan, bahkan percobaan pembunuhan yang pernah dialaminya dulu tidak pernah membuatnya gentar.Tetapi sekarang...Ia justru merasa takut.Takut kehilangan seseorang yang baru saja mengajarinya arti pulang.Suara pintu balkon terbuka perlahan membuyarkan lamunannya."Kamu belum tidur?"Kirana muncul dengan selimut tipis menyelimuti bahunya.Rambut panjangnya
Read more