Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Sinar matahari yang mulai meredup justru terasa menyengat, memantul di aspal panas di depan gedung Kantor Catatan Sipil. Ghea Paramita berjalan beberapa langkah di belakang Arishen Mahendra, menatap punggung tegap pria itu yang terbungkus setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap.Langkahnya terasa goyah. Di dalam tasnya, tersimpan sebuah buku kecil dengan stempel resmi negara. Ia baru saja mengganti statusnya. Hanya dalam waktu kurang dari dua jam, ia bukan lagi sekadar sekretaris, melainkan istri sah dari salah satu pria paling berpengaruh di ibu kota. Segalanya terasa seperti mimpi buruk yang dibungkus dengan kemasan indah.Mereka sampai di depan mobil Toyota Alphard hitam yang sudah menunggu. Arishen membuka pintu belakang, membiarkan ibunya masuk terlebih dahulu, lalu disusul olehnya. Ghea, yang sudah terbiasa dengan posisinya sebagai bawahan, secara otomatis hendak duduk di kursi depan di samping sopir."Ghea, Sayang, duduk di sini
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-05-10 อ่านเพิ่มเติม