Begitu melangkah masuk ke dalam rumah lama keluarga Mahendra yang megah, Nyonya Sarah langsung menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia menoleh ke arah suaminya, Tuan Hendra Mahendra, yang sedang berdiri di sampingnya."Lihat mereka, Pa. Betapa serasi dan cocoknya kedua anak ini saat berdiri berdampingan," ucap Nyonya Sarah sambil tersenyum lebar.Ghea memaksakan sebuah senyuman canggung. Saat tatapannya beradu dengan sorot mata berwibawa Tuan Hendra, ia secara naluriah menyapa berdasarkan kebiasaan profesionalnya di kantor, "Selamat sore, Pimpinan."Nyonya Sarah langsung tertawa kecil seraya menegur dengan nada memanjakan, "Anak ini, kenapa di rumah masih memanggil Pimpinan? Mulai sekarang, panggil Papa saja kalau sedang di rumah."Ghea menguatkan hatinya, menelan semua kekakuan di tenggorokannya, lalu mengangguk sopan. "Iya, Papa." Ia kemudian berbalik menatap ibu mertuanya. "Sore, Mama.""Anak pintar." Nyonya Sarah segera meraih ta
Mehr lesen