Bab 92 Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden jendela, menyentuh wajah Melati perlahan dan membangunkannya dari tidur yang akhirnya lebih tenang. Namun begitu matanya terbuka, hal pertama yang ia lakukan adalah menatap kosong ke arah langit-langit kamar, lalu tangannya bergerak perlahan menekan lembut perutnya. Bayangan mimpi semalam masih terukir begitu jelas—suara panggilan "Ibu", genggaman tangan mungil itu, dan aroma melati yang tak pernah hilang dari ingatannya. Arthur sudah tidak ada di sampingnya. Melati mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, lalu suara langkah kaki pelan yang mendekat. Tak lama kemudian, pintu terbuka, dan Arthur muncul dengan wajah segar, rambutnya sedikit basah, serta senyum lembut yang selalu berhasil membuat detak jantungnya berubah irama. "Sudah bangun? Maaf tadi aku tidak membangunkanmu, kau terlihat tidur sangat lelap setelah semalam," ujarnya sambil duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusap lembu
Last Updated : 2026-07-14 Read more