Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh ketegangan, rumah Kieran kembali dipenuhi suara tawa.William duduk di meja makan sembari mengayunkan kedua kakinya. “Mama, hari ini aku mau bekal yang banyak ya!”Alena tersenyum. “Kenapa banyak sekali?”“William lapar Ma,” kata William. Kieran yang sedang meminum kopi pun ikut tertawa kecil. “Kalau terlalu banyak nanti tidak habis lo,”“Selalu habis, Pa,” jawab William. “Kenapa?” tanya Kieran. “Karena Mama yang masak,” rayu William. Alena langsung tertawa.“ Pandai sekali merayunya,”William ikut tertawa dan Kieran memandangi keduanya, pemandangan sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada semua kekayaan yang pernah ia miliki.Namun tiba-tiba, ponsel Kieran bergetar ia lalu mengeceknya, ada satu pesan yang masuk. Kieran lalu membukanya. Wajah Kieran seketika berubah.Alena langsung menyadarinya. “Ada apa?”Kieran tidak langsung menjawab, ia memilih untuk membaca pesan itu sekali lagi.“Tuan, kami menemukan nama ya
Baca selengkapnya