Air mata Alena jatuh. “Aku tidak ingin meninggalkanmu,”“Kalau begitu jangan pergi sendirian,” pinta Kieran. “Aku tidak bisa membiarkanmu untuk terus mempertaruhkan nyawamu untukku,” kata Alena. Kieran tersenyum tipis, tetapi kesedihan masih tertinggal di matanya. “Sayang, aku tidak mempertaruhkan nyawaku untukmu,” ia mengusap pipi Alena. “Aku mempertaruhkan semuanya untuk keluarga kita,”Alena memeluknya dan Kieran juga langsung membalas pelukan itu, menyandarkan dagunya di kepala istrinya.Mereka berdiam cukup lama, membiarkan keheningan meredakan luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.Kemudian Alena berbisik. “Aku akan pergi ke tempat itu,”Tubuh Kieran menegang.“Tapi aku tidak akan pergi sendiri,” Alena mengangkat wajahnya. “Aku ingin kamu bersamaku,”Kieran menatapnya. “Benarkah?”Alena mengangguk. “Aku tidak mau lagi menghadapi rahasia keluargaku dengan berbohong kepada suamiku sendiri,”Kieran memejamkan mata sejenak, lalu mencium keningnya. “Kalau begitu, kita
Magbasa pa